Laman

Minggu, 12 Februari 2012

KARYA ILMIYAH TQM DI MTs BREBES

IMPLEMENTASI KONSEP TQM DALAM PENDIDIKAN

MELALUI MADRASAH MODEL

(Studi pada MTsN MODEL di Brebes Jawa Tengah)

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Islam

Pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

Oleh;

IMAM GOZALI

NIM: 505910074

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI

CIREBON

2012

IMPLEMENTASI KONSEP TQM DALAM PENDIDIKAN

MELALUI MADRASAH MODEL

(Studi pada MTsN MODEL di Brebes Jawa Tengah)

TESIS

Diajukan Oleh

IMAM GOZALI

NIM: 505910074

Telah disetujui pada tanggal 15 Januari 2012

Pembimbing I,

Prof. Dr. H. Abdus Salam Dz. MM

Pembimbing II,

Dr. H. Ahmad Asmuni, MA

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI

CIREBON

2012

IMPLEMENTASI KONSEP TQM DALAM PENDIDIKAN

MELALUI MADRASAH MODEL

(Studi pada MTsN MODEL di Brebes Jawa Tengah)

Diajukan Oleh

IMAM GOZALI

NIM: 505910074

Telah diujikan pada tanggal 07 Februari 2012

dan dinyatakan memenuhi syarat untuk memperoleh gelar

Magister Pendidikan Islam (MPdI)

Cirebon, 11 Februari 2012

Dewan Penguji:

Ketua/Anggota

Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, MAg.

Sekretaris/Anggota

Dr. H. Ahmad Asmuni, MA

Pembimbng/Penguji II

Prof. Dr. H. Abdus Salam Dz. MM

Pembimbing/Penguji III

Dr. H. Ahmad Asmuni, MA

Penguji I

Direktur,

Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, MAg.

PERNYATAAN KEASLIAN

Bismillahirrahmanirrahim,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Imam Gozali

NIM : 505910074

Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam

Menyatakan bahwa tesis ini secara keseluruhan adalah benar-benar hasil penelitian saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya, dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Pernyataan ini dibuat dengan sejujurnya dan dengan penuh kesungguhan hati, disertai kesiapan untuk menanggung segala resiko yang mungkin diberikan, sesuai dengan peraturan yang berlaku apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan, atau ada klaim terhadap keaslian karya saya.

Cirebon, 15 Januari 2012

Yang menyatakan,

Materai 6000

Imam Gozali

NIM: 505910074

Prof. Dr. H. Abdus Salam Dz. MM.

Program Pascasarjana

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

NOTA DINAS

Lamp : 5 eksemplar

Hal : Penyerahan Tesis

Kepada Yth.

Direktur Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Di

CIREBON

Assalamu`alaikum wr. wb.

Setelah membaca, meneliti dan merevisi seperlunya, kami berpendapat bahwa tesis saudara Imam Gozali NIM: 505910074 berjudul: Implementasi Konsep TQM Dalam Pendidikan Melalui Madrasah Model: Studi Pada MTsN Model Di Brebes Jawa Tengah telah dapat diujikan.

Bersama ini Kami kirimkan naskahnya untuk segera dapat diujikan dalam sidang ujian tesis Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Atas perhatian Saudara, saya sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Cirebon, 15 Januari 2012

Pembimbing I,

Prof. Dr. H. Abdus Salam Dz. MM.

Dr. H. Ahmad Asmuni, MA

Program Pascasarjana

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

NOTA DINAS

Lamp : 5 eksemplar

Hal : Penyerahan Tesis

Kepada Yth.

Direktur Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Di

CIREBON

Assalamu`alaikum wr. wb.

Setelah membaca, meneliti dan merevisi seperlunya, kami berpendapat bahwa tesis saudara Imam Gozali NIM: 505910074 berjudul: Implementasi Konsep TQM Dalam Pendidikan Melalui Madrasah Model: Studi Pada MTsN Model Di Brebes Jawa Tengah telah dapat diujikan.

Bersama ini Kami kirimkan naskahnya untuk segera dapat diujikan dalam sidang ujian tesis Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Atas perhatian Saudara, saya sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Cirebon, 15 Januari 2012

Pembimbing II,

Dr. H. Ahmad Asmuni, MA

ABSTRAK

Imam Gozali: Implementasi Konsep TQM Dalam Pendidikan Melalui Madrasah Model: Studi Pada MTsN Model Di Brebes Jawa Tengah

Saat ini, kondisi sebagian besar madrasah menghadapi banyak masalah dalam perkembangannya, baik menyangkut sumberdaya manusia, sarana parsarana maupun kepemimpinannya. Kualitas sebagian besar kepala madrasah juga merupakan salah satu masalah yang masih sedang dihadapi. Proses pengangkatan untuk menjadi kepala madrasah negeri masih didasarkan pada senioritas dan urutan kepangkatan, bukan pada kemampuan manajemen dan potensinya.

Penelitian bertujuan: (1) Menggambarkan penerapan konsep TQM dalam manajemen pendidikan di MTsN Model Brebes; (2) Menggambarkan efektifitas penerapan konsep TQM dalam manajemen pendidikan di MTsN Model Brebes, dan (3) Menemukan dampak positif penerapan konsep TQM terhadap peningkatan kualitas pendidikan di MTsN Model Brebes.

MTsN Model Brebes dengan Visi madrasah adalah: mewujudkan insan yang unggul dalam imtaq dan mampu bersaing di era global dengan berperilaku Islami. Sedangkan misinya adalah: menciptakan pembelajaran yang bernuansa Islami, memberdayakan masjid/musholla sebagai laboratorium keagamaan dan menyelenggarakan kegiatan belajar sekolah berasrama (boarding school).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi sebagai instrumennya. Analisis data dilakukan dengan empat keabsahan dan keajegan data yang diperlukan dalam suatu penelitian pendekatan kualitatif; yaitu; keabsahan konstruk, triangulasi data, baik triangulasi pengamat, triangulasi teori maupun metode, mengorganisasikan data, melakukan kategorisasi, reduksi data, display serta klasifikasi data, dan akhirnya diinterpretasi dengan pendekatan logika dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan, sehingga proses penelitian terus berkembang secara dinamis.

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Konsep TQM sesungguhnya relevan dan sesuai untuk diterapkan pada penyelenggaraan pendidikan di MTsN Model Brebes. Karena adanya kesamaan filosofi, prinsip, tujuan dan elemen penunjangnya, yakni fokus pada pelanggan, keterlibatan total, dan perbaikan proses secara berkelanjutan. Hasilnya dapat dikatakan efektif. Hal ini ditandai oleh terpenuhinya indikator-indikator pengukuran madrasah efektif maupun tuntutan konsep TQM itu sendiri. Karena itu berdampak positif dan telah menunjukkan hasil sesuai tujuan konsep TQM, yakni berhasil menciptakan mutu pendidikannya sesuai standar mutu, baik mutu akademik maupun non akademik, diperoleh prestasi-prestasi belajar siswa (lulusan) dengan nilai tertinggi hingga melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), serta keunggulan-keunggulan lain di bidang akademik maupun non akademik, sehingga benar-benar menjadi magnet school di kalangan masyarakat.

ABSTRACT

Imam Gozali: Implementation Through the concept of TQM in Education Madrasah Model: Studies in MTsN Bradford Model InCentral Java

At present, the condition of most of the madrassas face many problems in its development, both related to human resources, facilities and leadership parsarana. The quality of most of the head of the madrasa is also one of the problems still being facet. The process of appointment to be head of Islamic countries are still based on seniority and rank order,rather than on management capabilities and potensial.

The research objectives: (1) Describe the application of TQM concepts in management education in Bradford MTsN Model, (2) Describe the effectiveness of the application of TQM concepts in management education in MTsN Model Brebes, and (3) Find thepositive impact of the application of TQM concept to improve the quality of education in MTsN Brebes model.

MTsN Brebes with Vision Model madrasah is: create a superiorhuman being in IMTAQ and able to compete in compete in the global era with islwmic behavior. While its mission is: to create a nuanced Islamiclearning, empowering the mosque / prayer room as a laboratoryand conduct religious boarding school learning activities (boardingschool).

The method used in this study is descriptive qualitative, through observation, interview and documentation studies as an instrument. Data analysis was performed with four legality and regularity of data required in a qualitative research approach; namely construct validity, data triangulation, both observer triangulation, triangulation theory and methods, organize data, perform categorization, data reduction, display and data classification, and finally interpreted with logic approach and analyzed in accordance with the requirements, so that the research process continues to evolve dynamically. Genaralisasi process always done with the intent to discover the basic concepts are significant to the issue of research (grounded theory).

The results can be concluded that: The concept of TQM in fact relevant and appropriate for the education in MTsN Model Brebes. Because of the similarity of philosophy, principles, goals and supporting elements, namely customer focus, total involvement, and continuous process improvement. The result can be said to be effective. It is characterized by compliance measurement indicators madrasas and demands effective TQM concept itself. Because it had a positive impact and have shown results as objective concepts of TQM, which succeeded in creating the quality of education according to quality standards, both academic and non academic quality, obtained by learning achievements of students (graduates) with the highest value to exceed the minimum criteria for exhaustiveness (KKM), as well as other advantages in academic and non academic, so it really becomes a magnet school in the community.

الملخص

ﺇﻣﺎﻡﻏﺯﺍﻟﻰ: التنفيذ من خلال مفهوم إدارة الجودة الشاملة في التعليم النموذجي المدارس الدينية : دراسات في نماذج ﺑﺭﺍﺑﻳﺱ في جاوة الوسطى

في الوقت الحالي، وحالة معظم المدارس الدينية تواجه العديد من المشاكل في تنميتها، على حد سواء المتعلقة بالموارد البشرية والمرافق والقيادة. نوعية أكثر من رئيس المدرسة هي أيضا واحدة من المشاكل التي لا تزال تواجهها وتستند تزال عملية التعيين أن يكون رئيس من الدول الإسلامية على الأقدمية والنظام رتبة،بدلا من التركيز على قدرات الإدارة والمحتملة. وتستند تزال عملية التعيين أن يكون رئيس من الدول الإسلامية على الأقدمية والنظام رتبة،بدلا من التركيز على قدرات الإدارة والمحتملة.

هداف البحث: (1) وصف تطبيق مفاهيم إدارة الجودة الشاملة في إدارة صغرى التعليم الثانويفي دولة نموذج برادفورد (2) وصف لفعالية تطبيق مفاهيم إدارة الجودة الشاملة في إدارة صغرى التعليم الثانوي في بر بسى نموذج الدولة،(3)البحث عن الأثر الإيجابي لتطبيق مفاهيم الجودة الشاملة لتحسين نوعية التعليم في المدارس الإعدادية الثانوية نموذج الدولة.فى ﺑﺭﺍﺑﻳﺱ المدرسةالنموذجية الإعدادية الثانويةفي الدولة برادفورد الرؤية المدارسالدينية هو: لتحقيقالإنسان المتفوق يجري في الإيمان والتقوى، وقادرة على المنافسة في عصر العولمة معالسلوك الإسلامي. في حين أن مهمتها هي: لخلق التعلم دقة الإسلامية، وتمكين الغرفة المسجد / صلاة كمختبر وتنظيم أنشطة التعلم المدرسة الداخلية( مدرسة داخلية)

الطريقة التي استخدمت في هذه الدراسة هو نوعي وصفي ، من خلال دراسات الملاحظة ، والمقابلة والوثائق كأداة. وأجري تحليل البيانات مع أربع الشرعية وانتظام البيانات المطلوبة في نهج البحث النوعي ، وهي بناء صحة البيانات التثليث ، سواء التثليث المراقب ، ونظرية التثليث والطرق ، وتنظيم البيانات وإجراء تصنيف ، والحد من البيانات ، وعرض وتصنيف البيانات ، وأخيرا تفسر مع نهج المنطق وتحليلها وفقا للمتطلبات ، حتى أن عملية البحث لا تزال تتطور بشكل ديناميكي. ﺗﻌﻣﻳﻡ عملية فعلت دائما مع نية لاكتشاف المفاهيم الأساسية هي كبيرة لمسألة البحث (نظرية الارض).

يمكن أن تكون النتائج التي خلصت : إن مفهوم إدارة الجودة الشاملة في الواقع ذات الصلة والملائمة للتعليم في ﺑﺭﺍﺑﻳﺱ النموذجي. بسبب التشابه في الفلسفة والمبادئ والأهداف والعناصر الداعمة ، وهي تركز العملاء ، والمشاركة الكاملة ، وتحسن عملية مستمرة. ويمكن القول نتيجة لتكون فعالة. يتميز مؤشرات قياس الامتثال المدارس ومطالب فعالة مفهوم إدارة الجودة الشاملة نفسها. لأنها أثر إيجابي وأظهرت النتائج على النحو المفاهيم هدف إدارة الجودة الشاملة ، والتي نجحت في خلق نوعية التعليم وفقا لمعايير الجودة ، والجودة الأكاديمية على حد سواء الأكاديمية وغير الحكومية ، التي تم الحصول عليها عن طريق التعلم إنجازات الطلاب (الخريجين) وفقا لأعلى قيمة تتجاوز الحد الأدنى من المعايير للتأكد من اكتمالها (ﻙﻙﻡ) فضلا عن المزايا الأخرى في الأكاديمية وغير الأكاديمية ، لذلك يصبح حقا مدرسة المغناطيس في المجتمع.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan taufik dan hidayah-Nya, tesis ini selesai penulis susun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam (MPd.I) pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

Dalam menyusun tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penelitian tesis ini hingga terwujud. Secara khusus ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Prof. Dr. H. Maksum, MA; Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon beserta para para Pembantu Rektor,

2. Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi, M.Ag.; Direktur Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon beserta para Asisten Direktur dan segenap staf.

3. Prof. Dr. H. Abdus Salam Dz. MM. dan Dr. H. Ahmad Asmuni, MA selaku Pembimbing I dan II dan penyusunan Tesis ini,

Cirebon,

Imam Gozali

NIM: 505910074

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………………

ii

LEMBAR PERSETUJUAN …………………………………………………

iii

PERNYATAAN KEASLIAN ………………………………………………

iv

NOTA DINAS ………………………………………………………………

v

ABSTRAK …………………………………………………………………

vi

ABSTRACT ………………………………………………………………..

vii

KATA PENGANTAR …………………………………………………….

viii

DAFTAR ISI ………………………………………………………………

ix

DAFTAR TABEL …………………………………………………………

x

BAB I

PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang Masalah ……………………………………..

1

B. Perumusan Masalah ………………………………………….

10

C. Tujuan Penelitian ……………………………………………

10

D. Manfaat Hasil Penelitian …………………………………….

11

E. Kerangka Konseptual ………………………………………..

11

BAB II

TOTAL QUALITY MANAGEMENT DAN PENDIDIKAN MADRASAH

17

A. Konsep Total Quality Management (TQM)…………………

17

1. Pengertian………………………………………………..

17

2. Tujuan TQM dalam Pendidikan…………………………..

25

B. Konsep Mutu…………………………………………………

45

C. Hakekat Peningkatan Mutu Madrasah……………………….

49

1. Implementasi Konsep Mutu Cara Deming Dalam Pendidikan

55

2. Konsep TQM Dalam Pendidikan Islam……………………

64

3. Konsep TQM Dalam Pendidikan Islam……………………

72

D. Hasil Penelitian Terdahulu…………………………………….

81

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

84

A. Obyek Penelitian ……………………………………………..

84

B. Metode Penelitian…………………………………………….

89

C. Prosedur Pengumpulan Data ………………………………….

90

1. Sasaran Penelitian …………………………………………..

90

2. Sumber Data ………………………………

90

3. Alat Bantu pengumpulan Data ……………………………

97

F. Analisis Data …………………………………………………

98

BAB IV

DAMPAK PENERAPAN KONSEP TQM PADA MADRASAH MODEL………………………………………………………….

106

A. Penerapan Konsep TQM Pada MTsN Model Brebes Jawa Tengah ……………………………………………………….

106

B. Efektifitas Penerapan Konsep TQM Pada MTsN Model Brebes

135

C. Dampak Positif Penerapan Konsep TQM Terhadap Peningkatan Kualitas Pendidikan di MTsN Model Brebes Jawa Tengah….

179

BAB V

PENUTUP

188

A. Kesimpulan ……………………………………………………

188

B. Rekomendasi ………………………………………………….

190

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………

191

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Selasa, 24 Januari 2012

DO'A HAB KEMENTERIAN AGAMA KAB.BREBES BERSAMA KAKANWIL JATENG

DO`A MEMPERINGATI

HARI AMAL BHAKTI KEMENTERIAN AGAMA RI KE - 63‎
Oleh: Drs. H. IMAM GOZALI, MPdI


YA ALLAH, TUHAN YANG MAHA PENGASIH LAGI
‎MAHA PENYAYANG,‎
DALAM PERTEMUAN KALI INI, ‎KAMI PERSEMBAHKAN PUJA DAN PUJI SYUKUR ‎KEHARIBAAN-MU. KAMI BERDOA DAN MEMOHON ‎KEPADA-MU CURAHKANLAH RAHMAT DAN KASIH-MU ‎KEPADA KAMI, RIDO`ILAH PERTEMUAN KAMI DALAM RANGKAIAN MEMPRINGATI HARI AMAL ‎BHAKTI KEMENTERIAN AGAMA KE-63 INI.‎

YA ALLAH, TUHAN YANG MAHA KUASA,
‎
JADIKANLAH SELURUH PEGAWAI KEMENTERIAN ‎AGAMA SEBAGAI APARATUR NEGARA DAN PELAYAN ‎MASYARAKAT YANG DISIPLIN, JUJUR, BERSIH DAN ‎MENGEDEPANKAN PELAYANAN KEPADA ‎MASYARAKAT. LIMPAHKAN KEPADA KAMI ‎PENGETAHUAN, KETERAMPILAN SERTA ‎PROFESIONALITAS DALAM MENGABDI KEPADA NEGARA, BANGSA DAN MASYARAKAT.‎
YA ALLAH
TINGKATKANLAH KOMITMEN, INTEGRITAS DAN ‎KESADARAN SELURUH APARATUR KEMENTERIAN ‎AGAMA TERHADAP TUGAS YANG DIEMBAN. ‎TUMBUHKANLAH SEMANGAT KEBERSAMAAN, ‎SPORTIVITAS DAN KEIKHLASAN DALAM ‎MENUNAIKAN BHAKTI KAMI KEPADA BANGSA DAN NEGARA ‎REPUBLIK INDONESIA.
YA ALLAH, YA RAHMAN YA RAHIM
KAMI MOHON KEHADIRAT-MU BERIKANLAH KEAMANAN, ‎KETENTRAMAN DAN KEDAMAIAN BANGSA DAN ‎ NEGARA ‎REPUBLIK INDONESIA. JAUHKAN KAMI DARI PERPECAHAN DAN ‎PERTIKAIAN YANG MERUSAK SENDI-SENDI KEUTUHAN ‎NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA. ‎MUDAHKANLAH SEGALA URUSAN DAN PEKERJAAN ‎KAMI. JAUHKANLAH KAMI DARI SEGALA MUSIBAH, ‎FITNAH DAN COBAAN YANG MEMBUAT KAMI TIDAK ‎MAMPU MELAKSANAKAN TUGAS DAN KEWAJIBAN ‎YANG DIAMANAHKAN KEPADA KAMI.‎
YA ALLAH, YA MUJIBAS SAILIN
AMPUNILAH SEGALA DOSA DAN KESALAHAN KAMI, ‎DOSA DAN KESALAHAN KEDUA ORANG TUA KAMI DOSA DAN KESALAHAN ‎PARA PEMIMPIN KAMI.

ENGKAULAH DZAT YANG ‎MAHA PENGAMPUN LAGI MAHA PENYAYANG. HANYA ‎KEPADA-MU KAMI MENYEMBAH DAN HANYA KEPADA-MU ‎PULA KAMI MEMOHON PERTOLONGAN. TERIMALAH ‎DOA DAN PERMOHONAN KAMI, AMIN.‎

ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

والحمد لله رب العا لمين

Brebes, 25 januari 2012

Oleh: Drs. H. IMAM GOZALI, MPdI

Senin, 09 Januari 2012

PENDIDIKAN IDEAL

TINJAUAN PEMIKIRAN AHMAD TAFSIR

TENTANG

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMI

(Suatu Upaya Mendidik Manusia Seutuhnya)

Oleh : Imam Gozali

Secara riil mutu atau kualitas kepribadian peserta didik kita belakangan ini semakin mecemaskan. Munculnya fenomena tawuran antar pelajar atau mahasiswa dan remaja di berbagai kota di tanah air dan ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang cenderung brutal dan brandal, meningkatnya penyalahgunaan Narkotika dan Obat- obat berbahaya (Narkoba), serta suburnya pergaulan bebas di kalangan remaja dan pemuda adalah sebagai indicator bahwa tujuan pendidikan bangsa ini telah gagal membentuk karakter peserta didik.

Pendidikan kita selama ini memang telah melahirkan alumnus yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan formal. Akan tetapi, pendidikan yang ada tidak berhasil menanamkan nilai-nilai karateristik bangsa ini. Kita lihat berapa banyak lulusan pendidikan memiliki kepribadian yang justru merusak diri mereka.

Tampak dunia pendidikan di Indonesia masih dipenuhi kemunafikan karena sertifikat orientit. Bukan hal mendasar yang membawa peserta didik pada kesadaran penuh untuk mencari ilmu pengetahuan dalam menjalani realitas kehidupan. Pendidikan semacam itu tidak terjadi di negeri ini sebab orientasinya semata-mata sebagai sarana mencari kerja. Kenyataannya yang dianggap sukses dalam pendidikan adalah mereka yang dengan sertifikat kelulusannya berhasil menduduki posisi pekerjaan yang menjanjikan gaji tinggi. sementara nilai-nilai akhlak dan budi pekerti menjadi `barang langka’ bagi dunia pendidikan.

Didalam buku Filsafat Pendidikan Islami ini, Ahmad Tafsir mengkritisi pendidikan di negri ini, yang masih menghasilkan lulusan berakhlak tidak baik seperti suka menang sendiri, pecandu narkoba dan hobi tawuran, senang curang dan tidak punya kepekaan sosial, atau gila harta dan serakah. Menurut penulis, kegagalan pendidikan di Negri ini bukan hanya diukur dari standar pemenuhan lapangan kerja. Juga harus mampu menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia.

Ahmad Tafsi, selanjutnya menegaskan, bangsa-bangsa yang dimusnahkan Tuhan bukan karena tidak menguasai iptek atau kurang pandai, namun karena disebabkan memilki tingka laku yang sangat buruknya. Karena itu, kemudian Akhmad Tafsir juga mengatakan bahwa, kata-kata bijak para filosof, pendidikan sejatinya ditujukan untuk membantu memanusiakan manusia. Pendidikan tersebut harus mencakup unsur jasmani, rohani dan kalbu. Implementasi ketiga unsur itu dalam format pendidikan niscaya menghasilkan lulusan dengan nilai kemanusiaan yang tinggi. Hanya saja, kita melihat pendidikan di Indonesia sangat jauh dari yang diharapkan bahkan jauh tertinggal dengan Negara-negara berkembang lainnya. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan. Pendek kata, pendidikan Islam belum sepenuhnya mampu mengantarkan anak didik pada kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Padahal, manusia adalah pelaku utama dan sekaligus sebagai obyek/ sasaran dalam proses pendidikan.

Penerbit : Rosda

Tahun : 2006

Halaman : 352 Hl

Ukuran : 15 x 21 cm

Rabu, 07 Desember 2011

Makalah Tugas IT Bpk Eben

PENDIDIKAN
DALAM
PERSPEKTIF IBNU KHALDUM

OLEH :
DRS. H. IMAM GOZALI JAMAL

A. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu penopang sebuah negara. Kita ingat ketika negeri Jepang luluh lantak dibombardir bom atom pada tahun 1945, konon, salah satu hal yang dicari pertama kali adalah seorang guru. Artinya, betapa Jepang sangat membutuhkan tenaga pendidik untuk membangun kembali negaranya. Dengan masyarakat yang “melek” pengetahuan, berwawasan tinggi, dan tentunya terdidik untuk maju, para Founding Father Jepang yakin negaranya akan mampu untuk bangkit kembali. Kini kita menyaksikan bagaimana kemajuan yang dicapai negeri “matahari terbit” itu dalam bidang perekonomian, Industri terutama dalam bidang IPTEK. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah suatu keniscayaan bagi sebuah negara yang menginginkan pencapaian kemajuan dalam segala bidang. Tanpa SDM yang mumpuni kemajuan sebuah negara adalah mustahil dan untuk menghasilkan SDM yang mumpuni inilah dibutuhkan sistem pendidikan yang baik.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai perbuatan, (hal, cara dan sebagainya) mendidik. Menurut Ahmad D Marimba pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pemilik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Abudin Nata: 2005). Selain itu, pendidikan dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang berorientasi pada pengembangan, pengarahan dan pembentukan kepribadian. Dari beberapa pengertian diatas terlihat bahwa dalam dunia pendidikan minimal didukung oleh beberapa hal berikut:
B. PEMBAHASAN
Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, pendidikan memiliki peranan penting dalam upaya pencapaian kemajuan bangsa. Perkembangan dunia pendidikan tentunya tidak akan terlepas dari sumbangsih para ilmuwan yang mencurahkan segala perhatiannya pada dunia pendidikan ini. Begitu pun yang dilakukan oleh para ulama sebagai yang merasa berkewajiban untuk menyebarluaskan ilmu-Nya. Salah satu ulama besar, filosof, psikolog sekaligus intelektual muslim Ibnu Khaldun adalah salah satunya. Dalam makalah ini pemakalah akan mencoba memberikan sekelumit tentang biografi Ibnu Khaldun yang berimplikasi pada pemikirannya dalam dunia pendidikan. Bagaimana pendidikan dalam pemikiran Ibnu Khaldun? Apa yang menjadi sumbangsih Ibnu Khaldun bagi dunia pendidikan? Apa saja yang mendukung corak pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun? Dan sebagainya.
1. Biografi Ibnu Khaldun
Nama lengkap Ibnu Khaldun yaitu Abdu al-Rahman ibn Muhamad ibn Muhamad ibn Muhamad ibn al-Hasan ibn Jabir ibn Muhamad ibn Ibrahim ibn Khalid ibn Utsman ibn Hani ibn Khattab ibn Kuraib ibn Ma`dikarib ibn al-Harits ibn Wail ibn Hujar (Toto Suharto: 2006) atau lebih dikenal dengan sebutan Abdur Rahman Abu Zayd Muhamad ibnu Khaldun. Ia dilahirkan pada 7 Mei 1332 di Tunisia.
Ibnu Khaldun menisbatkan nama dirinya kepada Khalid Ibn utsman karena Khalid adalah nenek moyangnya yang pertama kali memasuki Andalusia bersama para penakluk berkebangsaan Arab lainnya pada abad ke-8 masehi. Ibnu Khaldun adalah seorang yang memiliki prestasi yang gemilang, beliau sangat mahir dalam menyerap segala pelajaran yang diterimanya. Sejak masa kanak-kanak ia sudah terbiasa dengan filsafat, ilmu alam, seni dan kesusastraan yang dengan mudahnya ia padukan dengan bidang kenegaraan, perjalanan dan pengalamannya. Hal inilah salah satu pendorong kemunculan karya fenomenalnya Muqaddama Al Alamat (pengantar fenomenologis) yang lebih dikenal dengan sebutan Muqaddimah (prolegomena) saja.
Pada tahun 1352 Ibnu Kahldun berkelana ke Barat dan menetap di Fez. kemudian beliau pergi ke timur menuju Iskandariah dan Kairo. Disana beliau bertemu dengan Mamluk Sultan Al Zhahir Barquq yang menunjuknya menjadi guru besar fiqh mazhab Maliki dan hakim agung Mesir. Menjelang akhir hayatnya pada 1401, Ibnu Khaldun bertemu dengan Timurlane di luar garis perbatasan Damaskus. Penakluk Mongol tersebut menyambut ilmuwan ini dengan antusias dan mengemukakan minatnya untuk mengangkat Ibnu Khaldun sebagai pejabat pemerintahannya. Ibnu Khaldun sendiri kemudian lebih memilih untuk kembali ke Kairo dan melanjutkan pekerjaanya sebagai qadhi dan penulis hingga akhir hayatnya. Secara sederhana biografi Ibnu Khaldun ini dapat dibagi kepada tiga fase: Fase Pertama, masa pendidikan. Fase Kedua, masa politik praktis. Fase ketiga, masa kepengajaran dan kehakiman.

2. Pendidikan dalam Perspektif Ibnu Khaldun
Sebagai seorang pemikir, Ibnu Khaldun adalah produk sejarah. Menurut A. Luthfi As-Syaukaniy dari sini muncul apa yang disebut sejarah pemikiran atau sejarah intelektual. Istilah “pemikir” merupakan sesuatu yang ambigu dan dapat diterapkan kepada siapa saja yang memiliki spesialisasi tertentu. Ia dapat diterapkan kepada Philosoper, Thinker, Scholar, atau Intelektual yang merujuk kepada figur terpelajar (Lihat Toto Suharto: 2006). Jelasnya, pemikiran Ibnu Khaldun tidak dapat dipisahkan dari akar pemikiran Islamnya. Disinilah letak alasan Iqbal mengatakan bahwa seluruh semangat al-Muqaddimah yang merupakan manifestasi pemikiran Ibnu khaldun, diilhami pengarangnya dari al-Quran sebagai sumber utama dan pertama dari ajaran Islam. Dengan demikian pemikiran Ibnu Khaldun dapat dibaca melalui setting sosial yang mengitarinya yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan sebagai sebuah kecenderungan.
Sementara itu ada yang berpendapat bahwa Ibnu Khaldun mendapat pengaruh dari Ibnu Rusyd (1126 – 1198) dalam masalah hubungan filsafat dan agama. Dalam bidang pendidikan, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pendidikan atau ilmu dan mengajar merupakan suatu kemestian dalam membangun masyarakat manusia. Hal ini dapat terlihat pada pandangannya mengenai tujuan pendidikan, yaitu:
1. Memeberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena aktifitas penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu yang pada gilirannya kematangan individu ini bermanfaat bagi masyarakat.
2. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat yang membantu manusia agar dapat hidup dengan baik, dalam rangka terwujudnya masyarakat maju dan berbudaya.
3. Memperoleh lapangan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mencari penghidupan.
Pernyataan-pernyataan ini mengindikasikan bahwa maksud pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah mentransformasikan nilai-nilai yang diperoleh dari pengalaman untuk dapat memepertahankan eksistensi manusia dalam peradaban masyarakat. Pendidikan adalah upaya melestarikan dan mewariskan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat agar masyarakat tersebut bisa tetap eksis.
Dalam kaitannya dengan peserta didik, Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya sebagaimana yang acapkali dibicarakan para filosof, baik itu filosof dari golongan muslim atau non-muslim. Ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungannya dan interaksinya dengan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah ia sering disebut sebagai salah seorang pendiri sosiolog dan antropolog.
Menurut Ibnu Khaldun pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan dipengaruhi oleh peradaban. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa adanya perbedaan lapisan sosial timbul dari hasil kecerdasannya yang diproses melalui pengajaran. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan ini Ibnu Khaldun membaginya kepada tiga macam: 1). Ilmu Lisan; 2). Ilmu Naqli; 3). Ilmu Aqli.
Disamping beberapqa hal diatas, ibnu Khaldun juga menyoroti masalah kurikulum. Menurutnya ada tiga kategori kurikulum yang perlu diajarkan kepada peserta didik. Pertama, kurikulum yang merupakan alat bantu pemahaman. Kurikulum ini mencakup ilmu bahasa, ilmu nahwu, ilmu balaghah dan syair. Kedua, kurikulum sekunder, yaitu mata kuliah yang menjadi pendukung untuk memahami Islam. Kurikulum ini meliputi ilmu-ilmu hikmah seperti: logika, fisika, metafisika, dan matematiuka. Ketiga, kurikulum primer yaityu mata kuliah yang menjadi inti ajaran Islam. Kurikulum ini meliputi semua bidang al ulum al naqliyah seperti: ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu qiraat dan sebagainya.
B. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian diatas, terlihat bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya tampak sangat dipengarhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluq yang harus dididik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik.
Aspek-aspek yang dapat mendukung proses pendidikan mulai dari peserta didik, penidik, sarana dan prasarana harus benar-benar diperhatikan karena akan sangat berpengaruh pada jalannya proses pendidikan.
Dalam pada itu hendanya tidak mengabaikan hakikat tujuan pendidikan itu sendiri yaitu berorientasi pada pengembangan, pengarahan dan pembentukan kepribadian peserta didik. Oleh karena itu guru sebagai pendidik diharuskan mampu membaca situasi dan kondisi dalam pembelajaran, mengetahui psikologi anak dana sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
Audah, Ali, Ibnu Khaldun Sebuah Pengantar, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986.
Baali, Fuad dan Ali Wardi, Ibnu Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, alih bahasa Osman Ralibi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989.
Enan, Muhammad Abdullah, Ibnu Khaldun: His Life and Work, New Delhi: Kitab Bhavan, 1979.
Khaldun, Ibnu, Muqaddimah Ibnu Khaldun, (terj.) Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986.
Raliby, Osman, Ibnu Khaldun, Tentang Masyarakat dan Negara, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Sulaiman, Fathiyah Hasan, Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan, Bandung: Diponegoro, 1987.
_______, Sistem Pendidikan versi Al-Ghazali, Bandung: Diponegoro, 1987.
Thoha, Nashruddin, Tokoh-tokoh Pendidikan Islam di Jaman Jaya, Jakarta: Mutiara, 1979.
Wafi, Ali Abdul Wahid, Ibnu Khaldun Riwayat dan Karyanya, terj. Ahmadie Thoha, Jakarta: Grafiti Press, 1985.

Selasa, 06 Desember 2011

Makalah Kompprehensip

MADRASAH SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA
OLEH:
Drs. H. Imam Gozali Jamal
Mahasiswa Pascasarjana Semester IV Prodi manajemen Pendidikan Islam 
IAIN Syeh Nurjati Cirebon 
Tahun Desember  2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lembaga Pendidikan Islam tampak bervariasi dalam berbagai bentuk. Lembaga yang bersifat umum seperti : masjid, ada juga lembaga-lembaga lain yang memiliki kecenderungan lebih khusus. Prof . Dr. KH. Ma’sum, MA mengutip pendapat Hasan Abd, Al-Al, menyebutkan bahwa pada abad ke empat Hijriyah terdapat beberapa pendidikan Islam yang menggunakan lima sistem pengajaran dengan klasifikasi sebagai berikut : Sistem pendidikan Mu’tazillah, Sistem Pendidikan Ikhwanu Al-Safa, Sistem Pendidikan Bercorak Filsafat, Sistem Pendidikan Bercorak Tasawuf, dan Sistem Pendidikan Bercorak Fiqih. Hasan Muhammad dan Nadiyah Muhammad Jamaluddin juga menyebutkan lima sistem, masing-masing Sistem pendidikan bercorak teologi, sistem pendidikan bercorak syi’ah, sistem pendidikan bercorak filsafat, sistem pendidikan Bercorak tasawuf, sistem pendidikan bercorak Fiqih (Hadits). Pembagian yang terakhir ini memasukkan sistem Ikhwan al-Safa ke dalam corak Filsafat dan memunculkan Syi’ah, yang sebenarnya sedikit atau banyak telah terlihat dalam Ikhwan Al-Safa. Adapun Institusi yang dipakai oleh masing-masing dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Failasuf menggunakan : Dar Al-Hikmah, Al-Muntalinah, Warraqi’in.
2. Mutasawuf menggunakan Al-Zawaya, Al-Ribat, AL-Masajid dan Halaqat Al-Dzikir.
3. Syi’iyyin menggunakan Dra Al-Hikmah, Al-Masjid, pertemuan rahasia. Mutakallimin menggunakan Al-Masajid, Al-Maktabat, Hawarit, Al Warraqin dan Al-Muntadiyat.
4. Fuqaha’ dan Ahli Hadits : Al-Katatib, Al-Madaris, Al-Masajid.
Melihat data tersebut, jelaslah madrasah merupakan tradisi sistem pendidikan bercorak fiqh. Masing-masing sistem diatas memiliki institusi yang khusus walaupun umumnya memanfaatkan masjid. Namun, demikian madrasah dapat dianggap sebagai tradisi sistem pendidikan bercorak fiqh dan hadits, setidaknya pada masa Abbasiyah di Baghdad. Dengan kekhasannya itu, pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, madrasah merupakan lembaga pendidikan par excelene. Setelah perkembangan masjid dan kuttab, madrasah berkembang sangat pesat. Dalam sejarah Islam dikenal banyak sekali tempat dan pusat pendidikan dengan jenis, tingkatan dan sifatnya yang khas. (Ma’sum:1999:51)
Didalam buku “Madrasah sejarah dan perkembangannya” Ma’sum memberikan gambaran tentang eksistensi madrasah dalam membimbing dan mendidik umat Islam agar menjadi umat yang cerdas dan memilkiki kualita sumberdaya manusia yang handal. Dari latar belakng tersebut dapatlah dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1. Bagaimanakah sejarah perjalanan madrasah dari masa Islam Klasik ?
2. Seberapa jauh perkembangan Madrasah di Indonesia ?
3. Bagaimanakah kebijakan pemerintah terhadap keberadaan Madrasan di Indonesia ?
B. PEMBAHASAN
B.1. Pengertian
B.1.1. Pengertian Madrasah
Istilah atau sebutan "madrasah" menurut bahasa Arab merupakan” اسم مكا ن” dari bentuk madhi " درس". Kemudian "madrasah" disebut sebagai "tempat mencari ilmu para pelajar",atau "tempat untuk memberikan pengajaran". Apabila dipahami dari sudut pandang bahasa Indonesia, kata "madrasah" memiliki arti "sekolah" walapun sebenarnya sebutan "sekolah" berasal dari bahasa inggris, yaitu school atau scola. Sungguhpun secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya secara formal,madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yakni "sekolah agama", tempat di mana anak-anak didik untuk memperoleh pembelajaran tentang seluk-beluk agama dan keagamaan Islam. Madrasah dan sekolah Islam saat ini, dari segi substansi sama saja, karena masing-masing mengajarkan agama dan bahasa arab, sedangkan kurikulum lain mengikuti standar Nasional yang di tetapkan Badan Nasional Standar Pendidikan.Dalam prakteknya memang ada madrasah yang disamping mengajarkan ilmu-ilmukeagamaan , juga mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selainitu ada madrasah yang hanya mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yangbiasa disebut madrasah diniyyah Kenyataan bahwa kata " madrasah" berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami " madrasah" sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni "tempat untuk belajar agama" atau "tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan". Madrasah mulai dikenal sebagai sutu lembaga pendidikan Islam mulai abad ke lima belas sebab madrasah yang muncul itu tidak dikenal pada masa- masa sahabat dan tabi’in,melainkan setelah 400 tahun sesudah hijriyah (Prof.. Dr. Ma’sum, MA. 1999:60).
B.1.2. Karateristik Madrasah di Indonesia
Metode dan cara pengajarn di Madrasah memiliki kurikulum yang tidak sama dengan sekolah, Madrasah memiliki karakter tersendiri, yaitu sangat mengutamakan nilai agama comunitasnya. Sedangkan sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan materi kurikulum yang terpengaruh kolonialis Eropa.
B.2. Sejarah Perkembangan Madrash
Sejarah perkembangan adrasah menurut Prof. Dr. KH. Ma’sum, MA di dalam bukunya “Madrasah Sejarah dan Perkembangannya” menjelaskan sejarah perkembangan menjadi beberapa fase, yaitu fase Islam Klasik, pertengahan dan masa kini ( sebagai sempel potrertnya) adalah pendidikan Islam atau madrasah di Indonesia.
B.2.1. Madrasah di Masa Islam klasik
Perkembangan Ilmu. Kaum Muslimin pada masa awal membutuhkan pemahaman Al-Qur’an sebagai apa adanya, begitu juga membutuhkan keterampilan membaca dan menulis. Ibu Khaldun mencatat bahwa pada awal kedatangan Islam orang-orang Quraisy yang pandai membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang. Semuanya laki-laki, pada masa Urmawi, masyarakat Muslim telah banyak memperhatikan Al-‘Ilm Al-Naqliyyah yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an al-Karim yang meliputi Al-Tafsir, Al-Qiraat, Al-Hadits dan Usul Fiqh, dan Al-Ulum Al-Lisaniyah seperti Ilm Al-Lughah, Ilm Al-Nahw, Ilm Al-Bayan dan Al-Abadi’. Pada masa Abbasiyah, sangat mungkin masyarakat muslim mulai berhubungan dengan Al-Ulum Al-Aqliyah atau ilmu kealaman, seperti kedokteran, filsafat dan matematika.
Kebutuhan ilmu pada masa awal Islam, yang menjadi kebutuhan utama ialah mendakwahkan Islam. Karena itu, sasaranpun pada mulanya ditujukan pada orang-orang dewasa. Jika diamati lebih lanjut, ternyata tempat-tempat pendidikan diatas, kecuali madrasah, bukan tempat yang disiapkan khusus untuk pendidikan. Masjid bahkan merupakan tempat yang multi guna. Selain fungsi utamanya untuk ibadah, masjid menjadi sentrum kegiatan masyarakat Muslim.Fungsi masjid sebagai tempat pendidikan dalam perkembangannya dipertimbangkan kembali, sehingga mendorong dibukanya lembaga-lembaga pendidikan baru. Beberapa alasan yang menjadikan penyelenggaraan pendidikan di masjid dipertimbangkan lagi ialah.
B.2.2. Sejarah Perkembangan Madrasah di Indonesia
Bahwa pertumbuhan madrasah di Indonesia merupakan akibat dari gerakan pembaharuan Islam di Indonesia yang terjadi pada awal abad 20 Msehi. Diamana gerakan pembaharuan tersebut di ilhami oleh beberapa faktor antara lain; (1) keinginan untuk kembali ada Al-Qur’an dan Hadits (2) faktor untuk melawan penjajah kolonial Belanda (3) faktoi memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik (4) pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Pertumbuhan madrasah di Indonesia juga dsebabkan oleh usaha dari penyesuaian atas tradisi persekoalahan yang dikembangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sejak pemerintah penjajah Belanda menyalenggarakan pendidikan sekolah maka para tokoh Islam merespon dengan menyelenggarakan pendidikan sekolah derngan materi ajar pendidikan agama juga materi ajar umum seperti membaca, menulis, berhitung, baha, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan kebudayaan, ketrampilan- ketrampilan administrasi dan organisasi.
B.3. Kebijakan Pemerintah
Pemerintah dalam memandang lembaga pendidikan madrasah bisa dikatakan berat sebelah tidak seimbang dengan sekolah umum suasana ini telah terjadi sejak pemerintahan penjajah Belanda, penjajah Jepang, pemerintah orde lama, sampai dengan pemerintahan Orde Baru.
B.3.1.Pertumbuhan madrasah pada era pemerintahan Penjajah Belanda
Semasa pemerintahan penjajah Belanda pernah diberlakukan kebijakan dibidang pendidikan dengan ordonansi guru kemudian diikuti ordonansi sekolah- sekolah liar yang berujung pada epenutupan madrasah yang tidak memenuhi syarat ordonasi. Kebijaka penjajah belanda ini mendapatkan tanggapan dari para tokoh Islam dengan bersikap defensif dan bersikap progresif yang peda akhirnya memunculkan dua corak pendidikan Islam yang pertama; pendidikan tradisional pesantren (Ma’sum: 1999: 116). Yang kedua pendidikan sekolah Islam atau madrasah diberbagai wilayah baik di Jawa maupun di luar Jawa. (Ma’sum: 1999: 117).
B.3.2.Pertumbuhan Madrasah pada Era Penjajah Jepang
Pemerintah penjajah Jepang membiarkan madrasah- madrasah yang telah ditutup pada masa penjajah Belanda untuk dibukanya kembali. Namun demikian pemerintah penjajah Jepang tetap melakukan pengawasan ketat. Respon para tokoh Islam terhadap kebijakan Jepang ini mereka membentuk Majlis Islam Tinggi di Minangkabau yang dipimpin oleh M. Jamil Jambek dan Mahmud Yunus. Pada masa pemerintahan Penjajah jepang ini munculah madrasah model baru yaitu Madrasah Awaliyah. Yang waktu belajarnya dilaksanakan pada sore hari, dengan tujuan agar anak Islam yang sekolah disekolah umum pada sore harinya dapat mempelajari materi- materi ajar agama Islam.
B.3.2.Pertumbuhan Madrasah pada Era Awal Kemerdekaan dan Era Orde Lama
Kondisi pendidikan di Indonesia yang dua kecenderungan yaitu; pertama,kecenderungan dualistik (yang mengabaikan pendidikan Islam). Kedua integratif (yang mempertimbangkan pendidikan Islam). Kemudian perkembangan madrasah pada era Orde Lama dan awal kemerdekaan sangat terkait dengan keberadaan Departemen Agama yang mulai resmi berdiri pada tanggal 3 Januari 1946. Pada saat itu Departemen Agama mulai memberikan pengajaran agama di sekolah- sekolah negeri dan partikulir, memberi pengertahuan umum di madrasah, mengadakan Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri /PHIN. (Ma’sum:1999:123).
Tampaknya pemerinta mengalami surut perhatiannya pada pendidikan agama Islam dengan ditetapkannya UU no 4 tahun 1950 dan Undang- undang No: 20 tahu 1954 karena isinya agak kurang menguntungkan pendidikan Agana Islam. Dan anehnya undang- undang ini masih terus diberlakukan hingga dekade 80-an.
B.3.3. Pertumbuhan Madrasah pada Era Orde Baru
Perkembangan madrasah pada era Orde Baru boleh dibilang cukup menggembirakan karena Orde Baru memiliki orientasi pemikiran bahwa madrasah harus dikembangkan dalam upaya pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan, dan Orde Baru memiliki komitmen bahwa pendidikan agama adalah bagian yang integral dari pendidikan Nasional.
Pada akhir dekade 80-an pendidikan Islam memasuki era integrasi yang ditandai dengan munculnya Undang- undang Nomor:2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). UUSPN ini mencakup jalur sekolah dan luar sekolah, jenis pendidikan akademik, pendidikan profesional, pendidikan kejuruan dan pendidikan keagamaan.
Dengan melalui posisi integrasi pendidikan Islam ini akan meyakinkan kepada umat Islam bahwa pendidikan Nasional tidak bernuansa sekuler, madrasah masuk dalam kelompok pendidikan sekolah, madrasah memiliki jurusan khusus ilmu- ilmu syari’ah yang 70 % muatan kurikulumnya bidang studi agama.
Pada akhirnya bahwa perkembangan madrasah mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan bagi umat Islam, karena menurut zamakhsari Dhofier yang dikutip oleh Ma’sum dalam buku (Madrasah Sejarah dan Perkembangannya:2009:161) madrasah bukan lagi terkesan sebagai lembaga pendidikan yang ekseklusif keagamaan, akan tetapi sudah merupakan lembaga pendidikan sekolah yang berkar pada budaya bangsa Indonesia.
C. KESIMPULAN
Kehadiran Islam dengan ajaran yang sangat sempurna dan menjadi agama yang terakhir memiliki cakupan yang multi dimensi termasuk didalamnya adalah bidang pendidikan. Islam sangat konsen dan menaruh perhatian yang sangat luarbiasa dalam bidang ilmu pengetahuan banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang membahas tentang keutamaan ilmu pengetahuan dan keutamaan orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Berbicara tentang ilmu pengetahuan maka disisi lain kita harus menyertakan lembaga pendidikan Islam yang dalam pembahasan makalah ini adalah “Madrasah Sejarah Dan Perkemangannya” yang telah di bahas pada poin pembahasan kemudian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Bahwa " madrasah" berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami " madrasah" sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni "tempat untuk belajar agama" atau "tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan".
2. Sejarah muncul dan pertumbuhan Madrasah pada masa Islam klasik adalah dari Masjid kemudaian pada abad pertengahan Islam madrasah dibangun dengan mengikuti coran kelompok aliran dalam Islam, Prof . Dr. KH. Ma’sum, MA mengutip pendapat Hasan Abd, Al-Al, menyebutkan bahwa pada abad ke empat Hijriyah terdapat beberapa pendidikan Islam yang menggunakan lima sistem pengajaran dengan klasifikasi sebagai berikut : Sistem pendidikan Mu’tazillah, Sistem Pendidikan Ikhwanu Al-Safa, Sistem Pendidikan Bercorak Filsafat, Sistem Pendidikan Bercorak Tasawuf, dan Sistem Pendidikan Bercorak Fiqih. Kalau ditilik secara mendalam sebenarnya tradisi medrasah adalah pendidikan yang bercorak fiqih.
3. Kemudian sejarah dan perkembangan madrasah di Indonesian mengalami pasang surut, dimulai sejak zaman penjajahan Belanda madrasah selalu mengalami presur dan tekanan bahkan banyak madrasah yang ditutup pada saat penjajah belanda menerapkan ordonansi daa memang penguasa saat itu kebetulan punya misi zending kristen. Kemudian pada masa pemerintahan penjajah Jepang madrasah dibuka kembali bahkan dimunculkan madrasah Awaliyah yang memberi kesempatan para pelajar Islam untuk mempelajari agama disore hari. Pada masa pemerintaha Orde Lama madrasah kurang mendapat perhatian dari pemerintah buktinya terbit UU No:4 tahu 1950 dan UU No: 20 Tahun 1954.
Pada saat pemerintah Orde Baru Madrasah mengalami kemajuan yang, sebab pada akhir dekade 80-an pendidikan Islam memasuki era integrasi yang ditandai dengan munculnya Undang- undang Nomor:2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). UUSPN ini mencakup jalur sekolah dan luar sekolah, jenis pendidikan akademik, pendidikan profesional, pendidikan kejuruan dan pendidikan keagamaan.
DAFTAR PUSTAKA
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos,1999)
Ma’sum, Dr, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, Pamulang Timur, Logos Wacana Ilmu, 1999.
Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam Di Indonesia (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)