Laman

Jumat, 11 April 2014

PEMIMPIN DALAM PERPEKTIF ISLAM

PEMIMPIN DALAM PERPEKTIF ISLAM
Disampaikan Oleh: Drs. H. Imam Gozali, M.Pd.I
Assalamualaikum wr.wb
اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ ماالمتقين, وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِه ِوَعَذَابِ الجحيمِ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ الملك الحق المبينُ واسهد َاَنَّ  مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث رحمة للعالمينِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَخَيْرِ خَلْقِهِ اجمعين, وَعَلَى الِهِ وَاصَحْابِهِ  المجَاهَدُين الطاهرين. اما بعد : فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Marilah kita beryukur kehadirat Alloh atas segala nikmat dan hidayahnya sehingga kita dapat menunaikan ibadah solat jum;at. Sholawat salam semoga Alloh swt selalu limpahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad saw, kepada keluarga dan sahabatnya. Tingkatkan ketakwaan kepada Alloh agar kita menjadi manusia yang berbahagia dunia akhirat amiin
Kemarin hari rabu tanggal, 09 April 2014 telah melaksanakan  hajatan kolektif berupa kewajiban memilih pemimpin bangsa untuk 5 tahun medatang dan akan.memilih presiden Top leder di negeri ini, Memang secara hakiki kita semua adalah pemimpin. Namun dalam lingkup yang lebih luas, kita berkewajban untuk menentukan siapa yang patut dan pantas kita pilih untuk mewakili kita dalam memimpin bangsa yang beragam dan beranekawarna ini.
Berbicara masalah memilih pemimpin dan kepemimpinan, ajaran Islam sangat detil ketika membincangkan tentang pemilihan pemimpin, karena hal tersebut memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada individu, namun juga pada masyarakat dan lingkungan yang akan dipimpinnya kelak.
Berbagai persyarat pun digariskan oleh Islam terkait calon pemimpin yang dianggap layak untuk memimpin komunitas, organisasi, daerah, hingga level negara, antara lain
adalah shiddiq (benar), amanah(terpercaya), tabligh (menyampaikan kepada umat), dan fathanah(cerdas).
Keempat syarat kepemimpinan tersebut sesungguhnya mengacu pada karakter kepemimpinan Rasulullah saw yang terbukti mampu menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan penuh dengan barakah serta keridhaan I. Dalam khutbah ini, kita hanya akan fokus membincangkan indikator kedua, yakni “Amanah”.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Amanah, ditinjau dari aspek yang lebih sempit, diartikan sebagai memelihara titipan yang akan dikembalikan dalam bentuknya seperti sediakala. Dalam tinjauan yang diperluas, amanah mempunyai cakupan yang lebih luas, seperti memelihara amanah orang lain, menjaga kehormatan orang lain, atau menjaga kehormatan dirinya.
Kemudian dalam konteks bernegara, amanah yang dibebankan kepada para pemegang amanah (kepala negara atau kepala Daerah) harus dipikul dengan sebaik-baiknya karena memiliki dua perspektif pertanggungjawaban yaitu vertikal (hablumminallah)
dan horizontal(hablumminannas) sekaligus. Setiap pemimpin, baik di lingkup pemerintahan pusat maupun daerah, dengan demikian wajib menegakkan amanah jabatannya. Dan contoh teladan yang patut menjadi ukuran umat Islam dalam memilih pemimpin adalah mengacu pada kepribadian dan teladan yang melekat pada diri Rasulullah r. Sebab Rasulullah r lah satu-satunya teladan sempurna bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah I dalam surah al-Ahzab ayat 21:
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah”.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Rasulullah pantaslah menjadi sosok panutan bagi para pemimpin dan calon pemimpin karena sifatnya yang amanah tersebut. Meskipun susah untuk mengikuti jejak keteladanan Nabi r secara komprehensif, paling tidak kita bisa mendekati apa yang pernah Nabi Muhammad saw lakukan dalam menegakkan amanah sebagai pemimpin agama dan pemimpin negara ketika itu.
Terkait kewajiban memilih pemimpin yang amanah, Allah I berfirman dalam Qu’an Surat an-Nisaa, ayat 58:
* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù'tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $Jè‹Ïÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ  
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Ayat tersebut di atas dengan jelas menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang amanat. Dan salah satu wujud dari pemimpin amanat adalah ketika menetapkan hukum di antara manusia, dia harus mampu bersikap adil dan tidak diskriminatif.
Kemudian, seorang pemimpin yang amanah, juga harus terbebas dari perilaku korupsi; sekecil apapun bentuknya. Baik dalam hal materi maupun kewenanangan. Terkait ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya:
"Barang siapa yang kami angkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu dan kami beri upah yang semestinya, maka sesuatu yang diambilnya sesudah itu (selain upah) namanya korupsi." (HR Abu Dawud).
Dengan demikian, amanah menjalankan tugas dan fungsi jabatannya, yang dalam standar paling dekat haruslah adil dalam penegakan hukum dan tidak korupsi di tengah-tengah masa jabatannya. Prasarat itulah yang menjadi ukuran dasar bagi seorang pemimpin yang digariskan Islam.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dari dalil- dalil tersebut, nampak jelas bahwa kriteria amanah merupakan satu hal yang mutlak dimiliki oleh seorang calon pemimpin, sehingga mampu diandalkan dalam membawa perubahan yang baik bagi kehidupan masyarakat.
Selanjutnya, apa saja yang perlu kita persiapkan sejak awal untuk mengenal, mempersiapkan, dan memilih pemimpin yang sesuai dengan keteladanan Rasul? Rasulullah saw setidaknya telah memberikan contoh terbaik, termasuk kriteria bagi seorang pemimpin yang amanah tersebut, antara lain:
Pertama, ia tidak terlalu berambisi merengkuh jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara. Dalam sebuah Hadis sahih dari Abu Musa al-Asy'ari, Rasulullah r bersabda:
''Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan suatu jabatan kepada orang yang memintanya atau berambisi mendapatkannya.'' (HR Muslim).
Memberikan amanah (hak pilih) kepada yang meminta saja tidak boleh, apalagi ketika seseorang sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh suatu jabatan. Bisa dipastikan, sosok pemimpin seperti ini akan sulit berlaku amanah. Alih-alih diharapkan berkorban untuk kesejahteraan rakyat, ia justru akan sibuk mengembalikan modal yang pernah dikeluarkannya, memperkaya diri, dan mencari prestise lewat jabatan yang diemban.
Kriteria Kedua yang diajarkan Rasulullah r dalam memotret pemimpin dan calon pemimpin adalah, ia taat beribadah dan memiliki relasi sosial yang baik. Ketika Umar bin Khattab r mengangkat Nafi' bin al-Harits sebagai gubernur Makkah, Nafi' memilih Ibnu Abza untuk mengepalai masyarakat yang tinggal di daerah lembah dekat Makkah, padahal semua tahu Ibnu Abza hanyalah bekas budak di komunitas tersebut.
Saat Umar bin Khattab t mengonfirmasi hal itu, Nafi' menjawab, ''Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Al-Quran, paham masalah faraidl(waris), dan sering memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.'' (HR Ahmad). Maka, Umar pun memuji pilihan Nafi' karena melihat kapabilitas dan tingkat akseptabilitas Ibnu Abza.
Ketiga, ia adalah pribadi yang sederhana dalam kesehariannya. Sebab, hanya pejabat dengan gaya hidup yang sederhanalah yang bisa imun (tahan) dari godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah sangat potensial menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi walaupun telah dimanjakan dengan gaji yang lebih dari cukup. Padahal, Rasulullah r telah menegaskan bahwa pejabat yang curang dan korup tidak akan pernah mencium wangi surga.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dari tiga kriteria dasar tersebut di atas, setidaknya telah memberi gambaran bagaimana sosok pemimpin dan calon pemimpin yang sebenarnya perlu diberikan amanah kepadanya. Sayangnya, keteladanan pemimpin seperti itu di negeri ini seolah sulit dicari. Memang, sulit bukan berarti tidak ada sama sekali. Oleh karena itulah, rakyat yang cerdas akan mencarinya sampai ketemu.
Meski indikasi keteladanan pemimpin di negeri ini berada pada puncak kepurbaan yang langka, jangalah membuat kita berputus asa untuk mencarinya. Sekali lagi, seseorang dapat dikatakan pemimpin panutan yang layak diteladani apabila melakukan kebajikan yang patut diteladani karena dirinya memantulkan laku baik dan benar. Baik untuk diri sendiri dan kelompoknya, baik bagi seluruh rakyat dan warga yang ia pimpin, juga benar dalam menjaga dan menjalankan amanah yang rakyat titipkan kepadanya.
Kita patut prihatin, kebanyakan dari pemimpin yang ada sekarang terlalu mementingkan pribadi dan golongannya. Kerapkali kebijakan yang dibuat sangat dipaksakan demi kepentingannya sendiri, sementara kepentingan rakyat atau masyarakat diabaikan. Meski sering dinasehati melalui pendekatan pribadi maupun pendekatan sosial seperti demonstrasi, tetap saja tak bergeming. Asal tujuannya tercapai itu sudah lebih dari cukup bagi Sang Pemimpin ini. Orang-orang inilah yang sering disebut pemimpin tidak amanah. Pemimpin seperti ini tidak mengerti artinya memimpin.
Pemimpin yang beriman dan paham akan arti sebuah kepemimpinan yang amanah, akan sangat ketakutan untuk tidak bertindak amanah pada setiap kebijakan yang ia kerjakan. Dan bagi manusia beriman, kepemimpinan merupakan amanah dari Allah I. Apapun bentuk yang ia pimpin. Apakah itu rumah tangga, pemerintahan, BUMN atau BUMD, perusahaan swasta atau memimpin dalam komunitas kecil sekalipun, amanah haruslah menjadi dasar dalam menjalankan roda kepemimpinan.
Pemimpin yang amanah, setidaknya akan selalu meresapi apa yang menjadi pesan Allah I, sebagaimana di firmankan dalam al-Qur’an surat Al-Hasyr,18.
$pkš‰r'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£‰s% 7‰tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ  

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebagai umat muslim, kita juga harus mau belajar pada masa lalu, kreatif dengan masa yang sekarang ada, guna mendapatkan hari esok yang lebih baik. Memang, kita juga menyadari bahwa menunaikan amanah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung pun tidak mampu mengembannya. Manusia diberi beban amanah karena ia memiliki kemampuan berbeda dengan benda-benda padat. Manusia memiliki hati dan akal pikiran, keimanan, perasaan kasih sayang, empati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah.
Karena amanah menentukan nasib sebuah bangsa dan daerah. Jika setiap orang, baik mereka yang memimpin dan kita yang memilih pemimpin bisa menjalankan tugas masing-masing dengan penuh amanah dan tanggung jawab, maka selamatlah bangsa kita. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa dan daerah itu. Sehingga Rasulullah r mengingatkan dalam sebuah sabdanya, "Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, "Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya".(Bukhari dan Muslim).
Semoga kita sentiasa bisa mempersiapkan diri dalam segala hal guna menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Amin.



Minggu, 24 Maret 2013

PONDOK PESANTREN AL-MULTAZAM KHUSNUL KHOTIMAH KAB. KUNINGAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI NEOFUNGSIONALISME (JEFFRY C. ALEXANDER) Interaksi Soaial Dalam Pondok Pesantren Al-Multazam Khusnul Khotimah Kab. Kuningan Dalam Perspektif Sosiologi Neofungsionalisme (Jeffry C. Alexander) Oleh DRS. H. IMAM GOZAI, M.Pd.I Mahasiswa Pasca sarjana IAIN SYEH NURJATI Cirebon Tugas Matakuliah Sosiologi Pendidikan A.PENDAHULUA 1. Latarbelakang Istilah pesantren berasal dari kata santri degan awalan pe-dan akhiran an berarti tempat tinggal santri. Soegarda Poerbakawatja yg dikutip oleh Haidar Putra Daulay mengatakan pesantren berasal dari kata santri yaitu seseorang yg belajar agama Islam sehingga dgn demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul utk belajar agama Islam. Ada juga yg mengartikan pesantren adl suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yg bersifat “tradisional” utk mendalami ilmu tentang agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian (2004: 26-27). Dalam kamus besar bahas Indonesia pesantren diartikan sebagai asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Sedangkan secara istilah pesantren adl lembaga pendidikan Islam dimana para santri biasa tinggal di pondok (asrama) dgn materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum bertujuan utk menguasai ilmu agama Islam secara detail serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dgn menekankan penting moral dalam kehidupan bermasyarakat. Pondok pesantren secara definitif tak dapat diberikan batasan yg tegas melainkan terkandung fleksibilitas pengertian yang memenuhi ciri-ciri yg memberikan pengertian pondok pesantren. Jadi pondok pesantren belum ada pengertian yang lebih konkrit karena masih meliputi beberapa unsur utuk dapat mengartikan pondok pesantren secara komprehensif. Maka degan demikian sesuai degan arus dinamika zaman definisi serta persepsi terhadap pesantren menjadi berubah pula. Kalau pada tahap awal pesantren diberi makna dan pengertian sebagai lembaga pendidikan tradisional tetapi saat sekarang pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional tak lagi selama benar. Tipologi Pondok Pesantren, ada beberapa tipologi atau model pondok pesantren yaitu : • Pesantren yg mempertahankan kemurnian identitas asli sebagai tempat menalami ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi-I-din) bagi para santrinya. Semua materi yg diajarkan dipesantren ini sepenuh bersifat keagamaan yg bersumber dari kitab-kitab berbahasa arab (kitab kuning) yg ditulis oleh para ulama’ abad pertengahan. Pesantren model ini masih banyak kita jumpai hingga sekarang seperti pesantren Lirboyo di Kediri Jawa Timur beberapa pesantren di daeah Sarang Kabupaten Rembang Jawa tengah dan lain-lain. • Pesantren yg memasukkan materi-materi umum dalam pengajaran namun dgn kurikulum yg disusun sendiri menurut kebutuhan dan tak mengikuti kurikulum yg ditetapkan pemerintah secara nasional sehingga ijazah yg dikeluarkan tak mendapatkan pengakuan dari pemerintah sebagai ijazah formal. • Pesantren yg merupakan asrama pelajar Islam dimana para santri belajar disekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi diluarnya. Pendidikan agama dipesantren model ini diberikan diluar jam-jam sekolah sehingga bisa diikuti oleh semua santrinya. Diperkirakan pesantren model inilah yg terbanyak jumlahnya. (2002:149-150) • Pesantren yg menyelenggarakan pendidikan umum di dalam baik berbentuk madrasah (sekolah umum berciri khas Islam di dalam naungan DEPAG) maupun sekolah (sekolah umum di bawah DEPDIKNAS) dalam berbagai jenjang bahkan ada yg sampai Perguruan Tinggi yg tak hanya meliputi fakultas-fakultas keagamaan meliankan juga fakultas-fakultas umum. Pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur adalah contohnya. Dinamika Pondok Pesantren, dalam perspektif sosiologi lembaga penidikan terutama yang berbasis di pesantren ini telah mengalami proses perubahan interaksi khusus komunitas pesantren. Ini menunjukkan bahwa ada gejala- gejala sosial yg dilakukan komunitas pesantren utuk memiliki komunitas tersendiri agar tidak tergangu dengan gaya interaksi masyarakat dalam tanda kutip pergaulan bebas (tidak terkontrol tidak tertib dan tidak memiliki tujuan keilmuan/ Scence oriented) untuk membangun generasi muda berkarakter keagamaan. Hal inilah rupanya yang diterapkan didalam lingkunga komunitas Pondok Pesantren Multazam di Kuningan. Gambaran tentang kehidupan social pesantren ini penulis akan memcoba memandang dari perspektif teori sosiologi Jeffry C. Alexander yang terkenal dengan teori neo fungsionalsme. 1. Bagaimanakah sesungguhnya interaksi sosial yang terjadi di pondok pesantren Al Multazam Kuningan ? 2. Bagaimanak struktur sosial yang ada di pondok Pesantren Multazam Kuningan ? Bagaimanakah interaksi sosial pesantren dengan masyarakat sekitar Pondeok Pesantren Al Multazam Kab. Kuningan ? 3. Sejauh manakan kesesuaian antara interaksi sosial pada komunitas pesantrsn dengan teori sosiologi Neofungsionalsme yang dikembangkan (Grend Theory) oleh Jeffry C. Alexander ? B. PEMBAHASAN  Karakteristik Konsep Pemikiran Neofungsionalisme dapat difahami antara lain: Pertama, Neofunctionalism beroperasi dengan model penggambaran masyarakat yang melihat bahwa masyarakat terdiri dari unsur-unsur yang terpola. Pola ini memungkinkan sistem untuk dibedakan dari lingkungannya. Bagian dari sistem ini adalah "hubungan simbiosis," dan interaksi mereka tidak ditentukan oleh beberapa bentuk yang menyeluruh. Dengan demikian, neofunctionalism menolak setiap monocausal determinisme, terbuka dan pluralistik. Kedua, Alexander berpendapat neofunctionalism yang mencurahkan perhatian yang sama terhadap tindakan dan ketertiban. Neofunctionalism juga dimaksudkan untuk memiliki arti tindakan luas, tidak hanya rasional tetapi juga tindakan yang ekspresif. Ketiga, Neofunctionalism mempertahankan kepentingan struktural-fungsional dalam penggabungan, bukan sebagai fakta tetapi lebih sebagai kemungkinan sosial. Keempat, Neofunctionalism menerima penekanan Parsonsian tradisional pada kepribadian, budaya, dan sistem sosial. Selain menjadi penting untuk struktur sosial, penafsiran dari sistem ini juga menghasilkan ketegangan untuk perubahan dan kontrol. Kelima, neofunctionalism berfokus pada perubahan sosial dalam proses pembedaan sistem sosial, budaya, dan kepribadian. Jadi, perubahan tidak disebabkan pada "ketegangan individu dan lembaga" (Alexander, 1985a: 10).  Karaktyeristik dan Profel Ponpes Al Multazam Husnul Khotimah Sekolah Islam Terpadu (SDIT) Al Multazam berdiri tahun 2002. Permulaan kerja membangun sistem manajemen sekolah tersebut pada bulan Desember 2002 yaitu dengan membuka program SDIT pada bulan Juli 2002. Setahun kemudian dibuka program untuk SMPIT, yang tepatnya pada tahun pelajaran baru Juli 2003-2004. Sekolah Islam Terpadu Al Multazam biasa disingkat dengan sebutan SDIT Al Multazam dilengkapi dengan Boarding School. Yayasan Yang Menaungi, SDIT Al Multazam Boarding School berdiri dibawah Yayasan Pendidikan Islam Al Multazam Husnul Khotimah. Yayasan tersebut berdiri dan diresmikan pada tanggal 2 Mei 2002 dengan akte pendirian Hjh. Itje Tresnawiyah, SK. No. 3 Tanggal 2 Mei 2002. Status SMPIT AL Multazam swasta murni dan pada Januari 2006, SMPIT Al Multazam telah terakreditasi A (Amat Baik) oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan. Struktur Yayasan Pendidikan Islam Al-Multazam Husnul Khotimah Susunanan pengurus lembaga pendidikan Pondok Pesantren Al Multazam Khusnul Khotimah yang dapat penulis sajikan dari hasil survey di lokasi pada tanggal 14 Nopember 2010 dengan responden pengurus lembaga pendidikan tersebut adalah sebagai berikut: a. Dewan Pendidri H. Sahal Subhan, SH. Pandu Suandhana H. Maman Kurman, SH. Titi Dwi Wulandari. Tita Eka Puspita b. Pembina Yayasan: H. Sahal Suhana, SH. Pandu Swandana Tita Eka Puspita Titi Wulandari c. Dewan Pengawas: KH. Kosasih Thoyib, Lc. MH. Pengurus Yayayasan: Ketua Yayasan: H. Maman Kurman, SH. d.Sekretaris: Asep Saputra e. Bendahara: Hj. Nining Rimawati f. Mudir: KH. Abdul Rosyid, Lc. M.Ag. 4. Profil Sekolah 1. Nama : SMP Islam Terpadu Al-Multazam 2. Nama Yayasan : YPI Al-Multazam Husnul Khotimah 3. Alamat yayasan : Desa Maniskidul Kec. Jalaksana Kab. Kuningan 4. Kepala Sekolah : Dul Ahmad Bachtiar, Lc. M.Pd.I 5. SK Pendirian : 421.2/88/Sosial 6. NPSN : 20246363 5. NSS : 202021512037 6. Jenjang Akreditasi : A (Amat Baik), Tahun 2006 7. Status Tanah : Milik Yayasan a. Surat Kepemilikan Tanah : Pribadi b. Luas Tanah : 15.000 m2 8. Data Siswa tahun 2009-2010 : 530 siswa 9. Data Ruang Kelas : 16 Ruang kelas (status milik sendiri) 10. Jumlah Rombongan belajar : 6 Rombongan belajar Kelas VII 5 Rombongan Belajar Kelas VIII 5 Rombongan Belajar Kelas IX 11. Guru : 39 orang 12. Kegiatan Belajar Mengajar : Pagi, Siang, dan Malam. 13. Sumber Dana Operasional : a. SPP (Sumbangan Pemb. Pendidikan) b. BOS 14. Sarana dan Prasarana Fisik : Memamadai, Sebagaimana terlihat pada gambar berikut: 15. Keterangan Gambar: 1.Kantor 2.Gedung SMP 3. Gedung SMA 4.Ruang Belajar Putri 5.Lab. Komputer Putra 6.Lab. Komputer Putri 7. Lab. Bahasa 8.Ruangan Masjid 9.Gedung SD 10. Lapangan Olahraga Basket, Bola Voly dan Bulu Tangkis 16. Visi SMPIT Al-Multazam adalah :"Menjadi sekolah unggulan kebanggaan umat". 17. Misi SMPIT Al-Multazam adalah sebagai berikut : 1. Mewujudkan sekolah yang professional 2. Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efesien dengan pemanfaatan sumber daya yang ada. 3. Menciptakan budaya dan iklim pendidikan yang Islami. 4. Menciptakan tenaga kependidikan yang berkualitas, profesional, haroki dan Islami. 5. Mencetak ulama intelektual dan intelektual ulama. 6. Mengkader generasi dengan aqidah yang benar dan bersih serta memiliki akhlaqul karimah. 18. Tujuan Pendirian Sekolah : 1. Menyediakan lembaga pendidikan Islam alternatif. 2. Menjalankan amanah ummat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. 3. Membangun institusi pendidikan yang Islami yang dapat menyiapkan siswa unggul. 4. Menjadi mitra keluarga dan masyarakat dalam mendidik generasi muda yang berkualitas dan kompetitif. 5. Mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh dan siap menghadapi tantangan kehidupan global. 19. Program Unggulan SDIT Al-Multazam : 1. Tahfizhul Qur'an 2. Membiasakan berbahasa Inggris dan Arab aktif. Oleh karena itu, ditetapkan hari wajib berbahasa asing. 3. Olah Raga Prestasi. 4. Teknologi Informasi dan Komputer. 5. Matematika dan Sains (MIPA) 6. Belajar menerapkan cara hidup Islami. 7. Lingkungan Pembelajaran yang sangat mendukung. 8. Tanah dan bangunan milik sendiri 6. Diskripsi Umum Menejemen Pesantren Al Multazam Perilaku kepemimpinan kharismatik-tradisional pesantren sebenarnya bersandar kepada keyakinan bahwa kyai mempunyai kualitas luar biasa yang bersifat teologis, hal ini merupakan daya tarik pribadi kyai sebagai pemimpin-kekuasaannya berasal dari Tuhan. Fenomena kepemimpinan secara kolektif bersandar pada pembagian peran, tugas dan kekuasaan secara bersama, sehingga lahirnya kepemimpinan kolektif di pesantren diasumsi sebagai usaha bersama untuk mengisi jabatan baru karena tuntutan sosial masyarakat.Perubahan kepemimpinan tunggal yang mengacu pada figur kyai tertentu pada pola kepemimpinan kolektif semacam ini ternyata tidak menampik otoritas kyai yang menjadi ciri utama pesantren Al Multazam Khusnul Khotimah Kuningan, bahkan menempatkan kyai sebagai pengasuh yang terlembaga dalam dewan pengasuh (Lihat pada Struktur Yayasan Pendidikan Islam Al-Multazam Husnul Khotimah) Pengurus harian dan yayasan yang bertugas membenahi operasionalisasi yang dipegang oleh kyai muda dibantu sejumlah alumni dan santri, sehingga terjadi diversivikasi wewenang yang relatif merata, keputusan tidak muncul sepihak melainkan melalui mekanisme musyawarah seluruh komponen yang ada dalam kepengurusan dan yayasan pesantren. Observasi ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku kepemimpinan kolektif di pesantren. Beberapa hal yang dapat dideskripsikan sehubungan dengan fokus penelitian ini adalah; perilaku kepemimpinan kolektif di pondok pesantren dalam proses pengambilan keputusan, pengendalian konflik, dan pembangunan tim. Sub fokusnya adalah; perilaku kepemimpinan, sumber otoritas dan ghirah kepemimpinan kolektif dan proses pengambilan keputusan, penyelesaian konflik dan pembangunan tim. Observasi ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif berjenis studi multi situasi pada 1 (satu) pondok pesantrenyaitu Pondok Pesantren Khusnul Khotimah / Multazam di Kabupaten Kuningan, Dalam menggali data peneliti banyak menggunakan wawancara mendalam dengan para kyai fungsionaris Dewan Pendiri, Dewan Pengawas, dan Dewan Pengurus, serta dari para pengurus harian-majlis a'wan, asaatidz, dan santri. Serta melalui observasi dan dokumentasi, data-data dianalisis secara interaktif dan komparatif konsan. Dari hasil observasi diketahui bahwa; pertama,perspektif kepemimpinan kolektif pesantren, semula teraktualisasi dari proses sosial-kultural, kemudian pada perkembangannya berubah kepada proses sosial-struktural berbentuk organisasi yang beranggotakan kyai-kyai/Asatidz dan kemudian disebut "Dewan Pengurus" yangmemimpin dan mengasuh santri secara bersama-sama (berjemaah) atau collective didasarkan pada seniouritas (masyayikh), dengan kedudukan majlis kyai sebagai badan tertinggi di pesantren, secara fungsional merupakan pembina pengurus harian dan pengurus yayasan, yang dibantu oleh majlis pengasuh putri, majlis a'wan dan pengurus pleno. Dan sedangkan kolektivitas kepemimpinan dalam majlis kyai berkecenderungan pada perilaku kepemimpinan kolektif-partisipatif bergantung kepada kapasitas peran dan otoritas yang dipenuhi para kyai, serta kewenangan yang diberikan kepada kyai muda. Kedua, kewenangan dewan- dewan tersebut secara kolektif di pesantren bersumber dari kesadaran bersama pada norma-norma yang telah diatur bersama, serta kesadaran personal beberapa kyai bersumber dari nilai-nilai keagamaan yang diyakini berupa kharisma (charismatic-religious), yang mempunyai tujuan dan ghirah pelembagaan kepemimpinan di pesantren Al Multazam Khusnul Khotimah Kuningan ini sebagai upaya pembagian tugas dan kekuasaan, sebagai wadah bermusyawarah, upaya kesinambungan pesantren dimasa-masa mendatang, responsif terhadap persoalan pendidikan masayarakat, dan meneladani Rasul Muhammad saw, sebagai pemimpin sejati. Dan sedangkan perilaku kepemimpinan kolektif di pesantren didukung oleh faktor kepribadian, faktor pendidikan, faktor pengalaman, dan faktor lingkungan para Asatidz di pesantren. Ketiga, Perilaku proses pengambilan keputusan majlis Asatidz dilakukan melalui musyawarah dan inisitif-inisiatif sebagai proses penetapan tujuan dan sosialisasi program dalam memperkaya gagasan dan keterlibatan semua pihak. Demikian juga proses penyelesaian konflik bersifat individual, mediasi, klarifikasi(tabayyun), proses ikrar dan perjanjian (tajdidun niyah), dan proses mija hijau (mahkamah), sebagai upaya penegakan syari'ah. Sedangkan proses pembangunan tim dilakukan melalui proses intensitas pertemuan dan pemerataan komunikasi diantara pengurus, pemanfaatan moment-moment, pelibatan para Nyai di pesantren, serta pemberian kompensasi (bisyaroh). Implikasi obserfasi ini dapat mengilhami pola kepemimpinan pesantren yang selama ini dipimpin secara tradisional, kompensional dan individual minded. Kemudian pembagian kekuasaan dan wewenang, serta tugas dan fungsi kepemimpinan akan semakin jelas dan terarah, karena menurut peneliti problem yang akan diahadapi pondok pesantren dimasa-masa mendatang semakin kompleks, sehingga refresentasi kepemimpinan kolektif semakin mungkin untuk modalitas perilaku kepemimpinan yang berkesinambungan (continual leadership) dan situasional kolektif-partisipatif. C. KESIMPULAN Dari latar belakang juga pembahasan Konsep teori sosiologi Jeffry C. Alexander, Profil dan gambaran umum tentang implementaqsi menejemn pengelolaan Pondok Pesantren Al Multazam Khusnul Khotimah, maka makalah ini dapat disimpulkan bahwa; Petama, proses aktivitas sosial di lingkungan pondok pesantren Al Multazam Khusnul Khotimah Kab. Kuningan secara tidak disadari oleh fihak lembaga tersebut sebagian telah mengimplementasikan konsep sosiologi Jeffry C. Aleksander ini tergambar dari pelaksanaan menejemen yang mengakibatkan komunitas pesantren ini terdiri dari unsure- unsure yang terpola. Penulis katakan baru nampak sebagian implementasi neofungsionalisme pada tataran interaksi komunitas pesantren tersebut karena interaksi sosialnya masih Mono monocausal determinisme, tidak terbuka dan pruralistik. Kedua, Proses interaksi antar santri sudah nampak adanya aplikasi teori sosiologi neofungsionalisme Jeffry C. Alexander, terbukti adanya hubungan yang simbiosis diantara para pengurus dengan pengurus, antara pengurus dengan santri, antara santri santri dengan santri dan antara pengurus Ponpes dengan para wali santri, antara fihak komunitas pesantren dengan masyarakat sekitar pesantren (Tetangga Pondok Pesantren/komunitas luar Pondok Pesantren). Dalam penulisan makalah ni pasti banyak kekurangan, maka penulis mohon saran dan masukan untuk perbaikan. Terimakasih semoga bermanfaat, Amin…

Selasa, 20 Maret 2012

MERAIH MIMPI MELALUI PROSES PENDIDIKAN DI IAIN CIREBON

MERAIH MIMPI

MELALUI PROSES PENDIDIKAN

DI IAIN SYEH NURJATI CIREBON

(Esai Pendidikan. H. Imam Gozali)

بسم الله الرحمن الرحيم

Sudah lama aku bermimpi ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Pascasarjana (S2) IAIN, akan tetapi niat dan angan-anganku itu belum bisa terwujud menjadi kenyataan, karena terbentur dengan biaya yang konon menurut cerita, bahwa kuliah di pascasarjana (S2) itu menghabiskan dana paling sedikit Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah) dan bisa lebih dari jumlah tersebut. Dana sebanyak itu saya sebagai PNS rasanya tidak mampu untuk melanjutkan ke jenjang S2. Akhirnya mimpi ingin melanjutkan belajar di jenjang S2 itu saya kubur dalam-dalam, hingga pada tahun 2010 awal, saya memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan Pascasarjana S2 di IAIN Syeh Nurjati Cirebon, setelah mendapat dukungan dari istri dan anak-anakku. Bahkan semangat saya semakin bertambah kuat setelah mendapatkan motivasi dari Bapak Prof. Dr. H. Adang Jumhu Solichin,MA pada acara Matrikulasi (Orientasi Studi) di Perpustakaan IAIN Syeh Nurjati Cirebon, kata beliau “ jangan engkau khawatir soal biaya kuliah, sebab hakekatnya biaya pendidikan itu sudah disediakan oleh Alloh Swt melalui DIK- Pendidikan, biaya itu akan cair apabila seseorang telah menjalankan kegiatan pendidikan dan pagunya pasti lebih tinggi jumlahnya bila dibandingkan dengan biaya oprasional pendidikan yang dijalani”.

Motivasi beliau yang lain, adalah “bahwa Biaya pendidikan itu filosofinya sama dengan biaya orang merokok, ketika seseorang butuh rokok pasti ada uang untuk membeli rokok, maka ketika berhenti merokok bukan berarti uangnyapun menumpuk banyak berjuta- juta”.

Selama proses perkuliahan saya brusaha untuk selalu disiplin dalam mengikuti perkuliahan, pada semester I absensi saya 100 % hadir untuk semua matakuliah, untuk semester II saya izin pada matakuliahnya Prof. Dr. H. Cecep Sumarna 1 kali karena pada saat itu ada pernikahan dengan menggunakan wali hakim, pada semester III izin 1 kali pada Matakuliahnya Dr. H. Diding Nurdin dengan alasan pelaksanaan nikah yang walinya harus wali hakim juga. Karena pekerjaan saya sebagai PNS dan di amanahi oleh Kantor Kementerian Agama Kab. Brebes sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah.

16-02-2011

Foto saat menikahkan di Masjid Al Azhar Jatibarang Kab. Brebes Prov. Jateng.

Kemudian tugas- tugas yang diberikan oleh para dosen, saya laksanakan dengan disiplin, bahkan saya merasa senang kalau diberi tugas oleh bapak dosen, sebab dapat memberikan motivasi untuk selalu belajar dan bahkan memberikan kesadaran kepada saya, bahwa ternyata saya belum pernah membaca atau mendalami materi ajar yang dibebankan kapada saya, yang jelas tugas dari bapak- bapak dosen itu akan memberikan tambahan ilmu pengetahuan. Dan ternyata saya diberikan kemampuan untuk mengerjakan sebagian besar tugas- tugas tersebut, termasuk memiliki kemampuan didalam menjawab soal- soal Ujian Tengah Semester ( UTS ) dan Ujian Akhir Semester ( UAS ) dengan nilai memuaskan, kebanyakan mendapatkan nilai A, Semeter I hampir mendapat nilai A semua kecuali mata kuliah non SKS yaitu BHS. Inggris dan Bahasa Arab yang mendapat nilai B, pada Semester II ada tiga mata kuliah yang mendapat Nilai B yaitu metodologi Penelitian Kualitatatf dan Sosiologi Pendidikan Dosen pengampu Prof. Dr. H. Abdullah Ali, MA dan matakuliah Metodologi Penelitia Kuantitatif Dosen pengampu Prof. Dr. H. Abdus Salam, DZ. MM selain ke tiga matakuliah tersebut, itu mendapat nilai A semua. Kemudian pada Semester IV semua mata kuliah 100 % mendapat nilai A dan IP kumulatif semester I, II dan III adalah IP:3,73, alhamdulillah terima kasih saya sampaikan kepada-bapak dosen yang telah dengan ikhlas membimbing saya kapada kehidupan penuh warna ini.

16-7-2010

Foto sesaat setelah mengikuti Mata kuliah

yang di ampu Prof. Dr. Abdurahman Mas’ud, Ph.D

Untuk masalah pembayaran biaya pendidikan saya juga selalu berusaha selalu disiplin dengan cara membayar tepat waktu, kemudian yang menjadikan saya tambah bergembira adalah, karena sistem pembayaran biaya pendidikan di Pascasarjana IAIN Syeh Nurjati Cirebon memakai pendekatan sosial, artinya mahasiswa bisa membayar uang kuliah itu dengan di angsur sedikit-demi sedikit, cara pembayaran seperti itulah yang membuat saya semakin tambah ringan dalam membiayai oprasional kegiatan pendidikan di Pascasarjana (S2) IAIN Syeh Nurjati Cirebon.

Akhirnya selesai sudah proses pendidikan yang saya tempuh dengan mengikuti alur akademis yang telah ditentukan oleh IAIN Syeh Nurjati Cirebon, yang saya ikuti dengan sebaik- baiknya selama 4 semester (2 tahun) dan saya diberikan kemampuan untuk melakukan penelitian dalam penyusunan tesis dengan judul:

“IMPLEMENTASI KONSEP TQM DALAM PENDIDIKAN

MELALUI MADRASAH MODEL

(Studi pada MTsN MODEL di Brebes Jawa Tengah)

Ketika saya mengikuti ujian munaqosah tesis, para penguji memutuskan bahwa; Sdr IMAM GOZALI, NIM: 505910074 dinyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan.

Foto saat munaqosah 7-2-2012 se saat setelah munaqosah tesis

Harapan saya, ilmu Manajemen Pendidikan yang telah saya peroleh ini, nanti akan dapat saya implementasikan dengan sebaik- baiknya di tengah- tengah komunitas masyarakat saya. Dan bisa menjadi manusia yang terbaik sesuai pasen Bapak Direktur Pascasarjana IAIN Syeh Nurjati Cirebon Prof. Dr. H. Jamali Sahrodi,M.Ag yang disampaikan sesaat setelah memimpin sidang Tesis kata beliau ”Jadilah kalian manusia yang terbaik, yang mampu menjaga nama baik almamaternya”

Seiring dengan sabda Nabiyulloh Muhammad Saw :

خير الناس انفعهم للناس

Sebaik- baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia

والحمد لله رب العا لمين

RIWAYAT HIDUP

Nama : DRS. H. IMAM GOZALI

TT.Lahir : Jepara, 1 Desember 1965

Alamat : Jl. Teuku Cikditiro No. 10 Rt: 04 RW:05 Ds. Pesantunan

Kec. Wanasari Kab. Brebes Prov. Jawa Tengah

NO HP: 085327370669 dan 085290744389

Orang Tua : Bpk. H. Abd. Jamal

Ibu. Munawaroh

Istri : Hj. Ma’rifah

Anak :1.Nurul Fajriyah (MAN MODEL dan PONPES Assanusi di Ciwaringin Cirebon)

2. Nishfa Azizah (MIN Brebes)

Riwayat Pendidikh:

MI Mambaul ‘Ulum Jepara Tamat Th. 1979

MTs Darul “Ulum Jepara Tamat Th. 1983

MA Darul “Ulum Jepara Tamat Th. 1985

S1 IAIN Walisongo Semarang Tahun Th. 1992

S2 IAIN Syeh Nurjati Cirebon Tamat Th. 2012

Riwayat Pekerjaan :

1. Staf Bidang Urais Kanwil Dep. Agama Prop. Sulawesi Utara th 1996

2. Staf Kasi Urais Kantor Dep. Agama Kab. Sangihe Prov. Sulawesi Utara Talaud th 1997

3. Kepala Sub.Seksi Kepenghuluan dan Bimbingan Perkawinan di lingikungan Kantor Departemen Agama Kabupaten Sangihe Talaut Provinsi Sulawesi Utara 1998

4. Wakil PPN di KUA Kec. Losari Kab. Brebes Jawa Tengah Tahun 2002

5. Penghulu Fungsional di KUA Kec. Tanjung Kab. Jawa Tengah Brebes 2003

6. Penghulu Fungsional di KUA Kec. Brebes Kab. Brebes Jawa Tengah Th 2007

7. Kepala KUA Kec. Jatibarang Kab. Brebes Jawa Tengah Tahun 2009 sampai sekarang.