Laman

Minggu, 13 Juli 2014

KHUTBAH IDUL FITRI
TIGA PESAN TARBIYAH SHOUM DI BULAN  ROMADLON 1435 H/ 2014 M
Oleh : Drs. H. IMAM GOZALI, M.Pd.I
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبلا الله اكبر الله اكبر
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا  وسبحان الله بكرةواصيلا لا اله الا الله والله اكبر والله اكبر ولله الحد
 الحمد لله الذي جعل للمسلمين عيدا الفطر بعد صيام رمضان وجعل صيامهم تربية للنفوسهم ولعلهم يتقون    اشهدان لا اله الا الله واحده لا شريك له الملك الحق المبين واشهد ان محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعا لمين اللهم صل وسلم علي سيدنا محمد وعلي اله واصحابه اجمعين (اما بعد) قال الله تعالي في القران العظيم اعوذ باالله من الشيطا ن الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم يا يها الذين امنوا التقوا الله حق تقا ته الا وانتم مسلمو ن                                                 
JAMA'AH SHOLAT IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH
Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan hendaklah kamu sekalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu sekalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu sekalian, supaya kamu sekalian bersyukur.”
Rasulullah SAW bersabda:

زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر 
“Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. Kalimat tasbih dan tahmid, kita tujukan untuk mensucikan Tuhan dan segenap yang berhubungan dengan-Nya.
Tidak lupa puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa. Seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحد
JAMAAH IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH
Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan berkat karunia-Nya semata pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:
اذا صا موا شهر رمضان وخرجواالى عيدكم يقول الله تعالى: يا ملائكتى كل عا مل يطلب اجره انى قد غفرت لهم فمنادى مناد :  يا امة محمد ارجعو الى منازلكم  قد بدلت حسنا ت فيقول الله تعالى  : صمتم لى وافطرتم لى فقوموا مغفورا لكم
Artinya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian, maka Allah pun berfirman: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Sesorang kemudian berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berfirman: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangkitlah kalian sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحد
JAMA`AH IDUL FITHRI YANG BERBAHAGIA
Seiring dengan keprgian bulan suci Ramadhan, banyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita ambil untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika bisa diibaratkan, Ramadhan adalah suatu madrasah. Sebab 12 jam x 30 hari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, semula sesuatu yang halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram. 
Sementara dari aspek sosial, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar. Oleh karena itu, ada tiga pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama. 

Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral atau Tahdzibun Nafsi
Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/insting dasar  aatau besic Insting sejak ia dilahirkan. Yakni insting marah, insting pengetahuan dan insting syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adsalah naluri Syahwat.
Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat karakter, tiga karakter berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu karakter berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan. Pertama, karakter kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, karakter buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar lebih cenderung mengembangkan hukum rimba. K
Ketiga karakter syaithaniyah; indikatornya memperturutkan hawa nafsu yang meruntuhkan martabat kemanusiaan.
Jika ketiga tiga larakteristik ini lebih mewarnai karakteristik masyarakat atau bangsa pastilah akan terjadi perubahan pranata sosial yang sangat ekstrim dan kacau. Disana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh kemaksiatan dan kebaikan menjadi tersingkir, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya.
Sedangkan satu-satunya jkarakter yang memberikan harapan dan kontrutif adalah karakter rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); dengan indikator keimanan, kesabaran dan ketaqwaan yang telah kita bina bersama-sama melalui puasa di sepanjang bulan Ramadhan. Manusia yang dapat dengan baik mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Rububiyah dan Ilahiyah, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi weorang Manusia yang bertaqwa, pasca Ramadhan, yang menjadi harapan kita semua. Manusia yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: yaitu
1)      menahan diri dari hawa nafsu,
2)      memberi ma`af kepada sesama manusi dan
3)      berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah:
وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ
"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 134)

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحد
JAMA`AH IDUL FITHRI YANG BERBAHAGIA
Pesan kedua adalah pesan sosial
Pesan sosial Ramadhan ini terlukiskan dengan indah justru pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketika umat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori komunitas masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya sebab كُلُّكُمْ عِيَالُ اللهِ , kalian semua adalah ummat Allah. 
Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis Qurthubi:
اِنّىِ رَأَيْتُ اْلبَارِحَةَ عَجبَاً رَأَيْتُ مِنْ اُمَّتِى يَتَّقِى وَهجَ النَّارَ وَشِرَرَهَا بِيَدِهِ عَنْ وَجْهِهِ فَجَائَتْ صَدَقَتُهُ فَصَارَتْ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
Artinya: "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari ummatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka." 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحد
JAMA'AH SHOLAT IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH
Pesan ketiga adalah pesan jihad
Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh terutama yang ada relefansinya dengan Negara kita, yaitu: 
بَذْلُ مَاعِنْدَهُ وَمَا فِى وُسْعِهِ لِنَيْلِ مَا عِنْدَ رَبِّهِ مِنْ جَزِيْلِ ثَوَابِ وَالنَّجَاةِ مِنْ اَلِيْمِ عِقَابِهِ
"Mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya."
Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan seperti yang sedang terjadi di Palestina yang menimpa saudara-saudara kita sesama Muslim yang lagi musuhi Zionis Israil maupun dalam kondisi damai. Seperti di Negara kita Republik Indonesia, Jihad harus tetap dijalankan. Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial politik yang bermartabat, berkeadilan dan berkesejahteraan serta bersendikan atas nilai-nilai kemanusiaan dan ketaatan kepada Allah. Kemudin Jihad untuk mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan kepada orang lain.
Kemudian dalam kontek politik. Partai boleh beda pilihan Presiden dan Wakil Presiden boleh beda tetapi kerukunan dan keharmonisan tetap kita utamakan begitu juga ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah Islamiyah ingat kita umat Islam disatukan dengan kalimat tauhid :
لا اله الا الله محمد الرسول الله. 
Sesama Muslim haram hukumnya bermusuhan, saling menumpahkan darah dan memakan hartanya dengan jalan bathil
الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحد
JAMA`AH SHOLAT IDUL FITRI RAHIMAKUMULLAH
روي عن بعض الصحابة قالوا يا نبي الله لوددنا ان تعلم اي التجارة احب الي الله فنجر فيها فنزلت ( يايها الذين امنوا هل ادلكم علي تجارة تنجيكم من عذاب اليم تؤمنون بالله ورسوله وتجاهدون فيسبيل الله بامولكم وانفسكم ذلكم خيرلكم انكنتم تعلمون يغفرلكم ذنوبكم ويدخلكم جنات تجري منتحتها الانهار ومساكن طيبةفي جنات عدن ذالك الفوز العظيم                            
"Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat mendatangi Rasulullah. Ketika berjumpa, salah seorang dari mereka berkata: "Wahai Nabi Allah, kami ingin sekali mengetahui bisnis apa yang paling dicintai oleh Allah agar kami bisa menjadikannya sebagai bisnis kami". Kemudian diturunkan ayat:
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ö@yd ö/ä3—9ߊr& 4’n?tã ;ot»pgÏB /ä3ŠÉfZè? ô`ÏiB A>#x‹tã 8LìÏ9r& ÇÊÉÈ   tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ¾Ï&Î!qß™u‘ur tbr߉Îg»pgéBur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# óOä3Ï9ºuqøBr'Î/ öNä3Å¡àÿRr&ur 4 ö/ä3Ï9ºsŒ ׎öyz ö/ä3©9 bÎ) ÷LäêZä. tbqçHs>÷ès? ÇÊÊÈ   öÏÿøótƒ ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRèŒ óOä3ù=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $pkÉJøtrB ㍻pk÷XF{$# z`Å3»|¡tBur Zpt6ÍhŠsÛ ’Îû ÏM»¨Zy_ 5bô‰tã 4 y7Ï9ºsŒ ã—öqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊËÈ  
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (QS Ash-Shaff:10-12)
Dalam konteks sosial masyarakat kita saat ini, dimana masih banyak sektor sosial yang perlu pembenahan lebih lanjut. Maka makna jihad harus mengacu pada pengentasan masalah-masalah sosial. Oleh sebab itu, sudah selayaknya pada momentum lebaran saat ini, bukan hanya pakaian yang baru akan tetapi gagasan-gagasan baru juga harus dikedepankan untuk mengentaskan masalah-masalah sosial yang selama ini membelenggu kemajuan umat Islam Indonesia pada khususnya dan bangsa dan negara Indonesia pada umumnya.
الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحد
JAMA'AH SHOLAT IDUL FITHRI RAHIMAKUMULLAH
Demikianlah tiga pesan yang disampaikan oleh Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera.
اعوذ با لله من الشيطان الرجيم واما من خفت مقا م ربه ونهى النفس عن الهوى فا ن الجنة هي المئاءوي جعلنا الله واياكم من العادين والفا ئزين والمقبولين وادخلنا واياكم في زمرة المؤمنين
واقول قوولي هذا واستغفرولي ولكم وولولدنا ولسائر المسلمين والمسلمات                           فاستغفروه انه هو الغفور الرحيم                                                                                                                                                        
KHUTBAH KEDUA
الله اكبر الله اكبر الله اكبر
الله اكبر الله اكبر ال له اكبرالله اكبر
الله اكبر كبيرا والحمدلله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لااله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحد
 الحمد لله على نعامه وعلي احسانه والشكر له علي توفيقه وامتنانه واشهد ان لا اله الا الله واحده لا شريك له الملك الحق المبين واشهد ان محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده المبعوث رحمة للعالمين اللهم صل وسلم علي سيدنا محمد وعلي اله وسلم تسليما كثيرا اما بعد ايها الحاضرون التقوالله فيما امركم وانتهواعما نهاكم واعلموا ان الله امركم  بداء فيه بنفسه وثني بملائكته بقدسه وقالي تعالي ان الله وملائكته يصلون على النبي يايها الذين امنوا صلو عليه وسلمو تسليما  صلى الله عليه وسلم وعلى اله واصحابه اجمعين وعلي انبياءك ورسلك وملائكتك المقربين وارض اللهم عن الخلفاء الرشدين ابى بكر وعمر وعثمان وعلى وعن بقية الصحابة والتابعين وتابع التابعين لهم باحسان الى يوم الدين وارض عنا  معهم برحمتك يا ارحم الراحمين اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات اللهم اعز الاسلام والمسلمين واذل الشرك والمشركين وانصر من نصر الدين واخذ من خذل المسلمينودمر اعداء الدين واعل كلمتك الى يوم الدين اللهم ادفع عنا البلاء والوباء والزلازل والمحن ما ظهر منها وما بطن من بلادالملمين خاصة وسائر البلدن المسلمين عامة يا رب العالمين ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار عبادالله ان الله ياءمركم يالعدل والاحسان وايتاءذي القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغى يعظكم لعلكم تذكرون واذكرالله العظيم يذكركم واشكروه على نعامه يزدكم ولذكرالله اكبر                                
                                    

Jumat, 11 April 2014

PEMIMPIN DALAM PERPEKTIF ISLAM

PEMIMPIN DALAM PERPEKTIF ISLAM
Disampaikan Oleh: Drs. H. Imam Gozali, M.Pd.I
Assalamualaikum wr.wb
اَلْحَمْدُ للهِ الّذِىْ اَكْرَمَ ماالمتقين, وَاَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِه ِوَعَذَابِ الجحيمِ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ الملك الحق المبينُ واسهد َاَنَّ  مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المبعوث رحمة للعالمينِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ وَخَيْرِ خَلْقِهِ اجمعين, وَعَلَى الِهِ وَاصَحْابِهِ  المجَاهَدُين الطاهرين. اما بعد : فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Marilah kita beryukur kehadirat Alloh atas segala nikmat dan hidayahnya sehingga kita dapat menunaikan ibadah solat jum;at. Sholawat salam semoga Alloh swt selalu limpahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad saw, kepada keluarga dan sahabatnya. Tingkatkan ketakwaan kepada Alloh agar kita menjadi manusia yang berbahagia dunia akhirat amiin
Kemarin hari rabu tanggal, 09 April 2014 telah melaksanakan  hajatan kolektif berupa kewajiban memilih pemimpin bangsa untuk 5 tahun medatang dan akan.memilih presiden Top leder di negeri ini, Memang secara hakiki kita semua adalah pemimpin. Namun dalam lingkup yang lebih luas, kita berkewajban untuk menentukan siapa yang patut dan pantas kita pilih untuk mewakili kita dalam memimpin bangsa yang beragam dan beranekawarna ini.
Berbicara masalah memilih pemimpin dan kepemimpinan, ajaran Islam sangat detil ketika membincangkan tentang pemilihan pemimpin, karena hal tersebut memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada individu, namun juga pada masyarakat dan lingkungan yang akan dipimpinnya kelak.
Berbagai persyarat pun digariskan oleh Islam terkait calon pemimpin yang dianggap layak untuk memimpin komunitas, organisasi, daerah, hingga level negara, antara lain
adalah shiddiq (benar), amanah(terpercaya), tabligh (menyampaikan kepada umat), dan fathanah(cerdas).
Keempat syarat kepemimpinan tersebut sesungguhnya mengacu pada karakter kepemimpinan Rasulullah saw yang terbukti mampu menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan penuh dengan barakah serta keridhaan I. Dalam khutbah ini, kita hanya akan fokus membincangkan indikator kedua, yakni “Amanah”.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Amanah, ditinjau dari aspek yang lebih sempit, diartikan sebagai memelihara titipan yang akan dikembalikan dalam bentuknya seperti sediakala. Dalam tinjauan yang diperluas, amanah mempunyai cakupan yang lebih luas, seperti memelihara amanah orang lain, menjaga kehormatan orang lain, atau menjaga kehormatan dirinya.
Kemudian dalam konteks bernegara, amanah yang dibebankan kepada para pemegang amanah (kepala negara atau kepala Daerah) harus dipikul dengan sebaik-baiknya karena memiliki dua perspektif pertanggungjawaban yaitu vertikal (hablumminallah)
dan horizontal(hablumminannas) sekaligus. Setiap pemimpin, baik di lingkup pemerintahan pusat maupun daerah, dengan demikian wajib menegakkan amanah jabatannya. Dan contoh teladan yang patut menjadi ukuran umat Islam dalam memilih pemimpin adalah mengacu pada kepribadian dan teladan yang melekat pada diri Rasulullah r. Sebab Rasulullah r lah satu-satunya teladan sempurna bagi umat Islam, sebagaimana firman Allah I dalam surah al-Ahzab ayat 21:
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah”.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Rasulullah pantaslah menjadi sosok panutan bagi para pemimpin dan calon pemimpin karena sifatnya yang amanah tersebut. Meskipun susah untuk mengikuti jejak keteladanan Nabi r secara komprehensif, paling tidak kita bisa mendekati apa yang pernah Nabi Muhammad saw lakukan dalam menegakkan amanah sebagai pemimpin agama dan pemimpin negara ketika itu.
Terkait kewajiban memilih pemimpin yang amanah, Allah I berfirman dalam Qu’an Surat an-Nisaa, ayat 58:
* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù'tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $Jè‹Ïÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ  
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Ayat tersebut di atas dengan jelas menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang amanat. Dan salah satu wujud dari pemimpin amanat adalah ketika menetapkan hukum di antara manusia, dia harus mampu bersikap adil dan tidak diskriminatif.
Kemudian, seorang pemimpin yang amanah, juga harus terbebas dari perilaku korupsi; sekecil apapun bentuknya. Baik dalam hal materi maupun kewenanangan. Terkait ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya:
"Barang siapa yang kami angkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu dan kami beri upah yang semestinya, maka sesuatu yang diambilnya sesudah itu (selain upah) namanya korupsi." (HR Abu Dawud).
Dengan demikian, amanah menjalankan tugas dan fungsi jabatannya, yang dalam standar paling dekat haruslah adil dalam penegakan hukum dan tidak korupsi di tengah-tengah masa jabatannya. Prasarat itulah yang menjadi ukuran dasar bagi seorang pemimpin yang digariskan Islam.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dari dalil- dalil tersebut, nampak jelas bahwa kriteria amanah merupakan satu hal yang mutlak dimiliki oleh seorang calon pemimpin, sehingga mampu diandalkan dalam membawa perubahan yang baik bagi kehidupan masyarakat.
Selanjutnya, apa saja yang perlu kita persiapkan sejak awal untuk mengenal, mempersiapkan, dan memilih pemimpin yang sesuai dengan keteladanan Rasul? Rasulullah saw setidaknya telah memberikan contoh terbaik, termasuk kriteria bagi seorang pemimpin yang amanah tersebut, antara lain:
Pertama, ia tidak terlalu berambisi merengkuh jabatan itu, apalagi sampai menghalalkan segala cara. Dalam sebuah Hadis sahih dari Abu Musa al-Asy'ari, Rasulullah r bersabda:
''Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan suatu jabatan kepada orang yang memintanya atau berambisi mendapatkannya.'' (HR Muslim).
Memberikan amanah (hak pilih) kepada yang meminta saja tidak boleh, apalagi ketika seseorang sampai menghalalkan segala cara untuk memperoleh suatu jabatan. Bisa dipastikan, sosok pemimpin seperti ini akan sulit berlaku amanah. Alih-alih diharapkan berkorban untuk kesejahteraan rakyat, ia justru akan sibuk mengembalikan modal yang pernah dikeluarkannya, memperkaya diri, dan mencari prestise lewat jabatan yang diemban.
Kriteria Kedua yang diajarkan Rasulullah r dalam memotret pemimpin dan calon pemimpin adalah, ia taat beribadah dan memiliki relasi sosial yang baik. Ketika Umar bin Khattab r mengangkat Nafi' bin al-Harits sebagai gubernur Makkah, Nafi' memilih Ibnu Abza untuk mengepalai masyarakat yang tinggal di daerah lembah dekat Makkah, padahal semua tahu Ibnu Abza hanyalah bekas budak di komunitas tersebut.
Saat Umar bin Khattab t mengonfirmasi hal itu, Nafi' menjawab, ''Ia memang bekas budak, tetapi ia hafal Al-Quran, paham masalah faraidl(waris), dan sering memutuskan persoalan masyarakat dengan adil.'' (HR Ahmad). Maka, Umar pun memuji pilihan Nafi' karena melihat kapabilitas dan tingkat akseptabilitas Ibnu Abza.
Ketiga, ia adalah pribadi yang sederhana dalam kesehariannya. Sebab, hanya pejabat dengan gaya hidup yang sederhanalah yang bisa imun (tahan) dari godaan kemewahan dunia. Sebaliknya, gaya hidup mewah sangat potensial menjerumuskan seorang pejabat untuk melakukan korupsi walaupun telah dimanjakan dengan gaji yang lebih dari cukup. Padahal, Rasulullah r telah menegaskan bahwa pejabat yang curang dan korup tidak akan pernah mencium wangi surga.
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dari tiga kriteria dasar tersebut di atas, setidaknya telah memberi gambaran bagaimana sosok pemimpin dan calon pemimpin yang sebenarnya perlu diberikan amanah kepadanya. Sayangnya, keteladanan pemimpin seperti itu di negeri ini seolah sulit dicari. Memang, sulit bukan berarti tidak ada sama sekali. Oleh karena itulah, rakyat yang cerdas akan mencarinya sampai ketemu.
Meski indikasi keteladanan pemimpin di negeri ini berada pada puncak kepurbaan yang langka, jangalah membuat kita berputus asa untuk mencarinya. Sekali lagi, seseorang dapat dikatakan pemimpin panutan yang layak diteladani apabila melakukan kebajikan yang patut diteladani karena dirinya memantulkan laku baik dan benar. Baik untuk diri sendiri dan kelompoknya, baik bagi seluruh rakyat dan warga yang ia pimpin, juga benar dalam menjaga dan menjalankan amanah yang rakyat titipkan kepadanya.
Kita patut prihatin, kebanyakan dari pemimpin yang ada sekarang terlalu mementingkan pribadi dan golongannya. Kerapkali kebijakan yang dibuat sangat dipaksakan demi kepentingannya sendiri, sementara kepentingan rakyat atau masyarakat diabaikan. Meski sering dinasehati melalui pendekatan pribadi maupun pendekatan sosial seperti demonstrasi, tetap saja tak bergeming. Asal tujuannya tercapai itu sudah lebih dari cukup bagi Sang Pemimpin ini. Orang-orang inilah yang sering disebut pemimpin tidak amanah. Pemimpin seperti ini tidak mengerti artinya memimpin.
Pemimpin yang beriman dan paham akan arti sebuah kepemimpinan yang amanah, akan sangat ketakutan untuk tidak bertindak amanah pada setiap kebijakan yang ia kerjakan. Dan bagi manusia beriman, kepemimpinan merupakan amanah dari Allah I. Apapun bentuk yang ia pimpin. Apakah itu rumah tangga, pemerintahan, BUMN atau BUMD, perusahaan swasta atau memimpin dalam komunitas kecil sekalipun, amanah haruslah menjadi dasar dalam menjalankan roda kepemimpinan.
Pemimpin yang amanah, setidaknya akan selalu meresapi apa yang menjadi pesan Allah I, sebagaimana di firmankan dalam al-Qur’an surat Al-Hasyr,18.
$pkš‰r'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# öÝàZtFø9ur Ó§øÿtR $¨B ôMtB£‰s% 7‰tóÏ9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÑÈ  

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Sebagai umat muslim, kita juga harus mau belajar pada masa lalu, kreatif dengan masa yang sekarang ada, guna mendapatkan hari esok yang lebih baik. Memang, kita juga menyadari bahwa menunaikan amanah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung pun tidak mampu mengembannya. Manusia diberi beban amanah karena ia memiliki kemampuan berbeda dengan benda-benda padat. Manusia memiliki hati dan akal pikiran, keimanan, perasaan kasih sayang, empati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah.
Karena amanah menentukan nasib sebuah bangsa dan daerah. Jika setiap orang, baik mereka yang memimpin dan kita yang memilih pemimpin bisa menjalankan tugas masing-masing dengan penuh amanah dan tanggung jawab, maka selamatlah bangsa kita. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa dan daerah itu. Sehingga Rasulullah r mengingatkan dalam sebuah sabdanya, "Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, "Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya".(Bukhari dan Muslim).
Semoga kita sentiasa bisa mempersiapkan diri dalam segala hal guna menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Amin.